Mengenang kembali Jema’ah Tabligh

Bismillah..

Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh hingga saat ini saya masih diberikan kehidupan oleh Alloh Subhanu wa Ta’ala. Masih diberikan rezeki dan segala kemudahan oleh-Nya.  Masih diberikan berjuta kenikmatan yang tak terhitung..dan..dan..masih banyak lagi karunia yang telah diberikan-Nya. Sungguh sangat pantas lah bagi kita untuk tetap bersyukur padanya, dengan cara selalu bertaqwa kepada Alloh Subahanu Wa Ta’ala yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan Menjauhi segala Larangan-Nya.

Terima kasih kepada para pengunjung yang masih ada saja membaca tulisan-tulisan saya yang mungkin masih jauh dari kebenaran yang Hakiki. Karena saya menyadari..saya hanyalah manusia biasa yang tak ma’shum, jadi mungkin mohon di maklum saja apabila terucap dari lisan ini, atau tersurat dari jari jemari ini kata-kata yang tidak berkenan di hati para pembaca yang budiman.

Baiklah..masih tetap dengan pembahasan jema’ah tabligh. Mungkin banyak orang sudah bosan..mungkin banyak orang akan berkomentar..” ngapain sih ngurusin orang lain?? urusin aja urusanmu sendiri..gak ada gunanya ikut campur masalah orang lain. apalagi kalo dalam masalah agama nya orang lain..”  Ya..karena saya tidak akan bermaksud mencampuri urusan agama anda semua. Ini hanyalah sekedar sharing saya saja..terlepas dari bagaimana anda semua menilai dan memahami tulisan saya. Segala khilaf saya mohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala..

Jema’ah Tabligh..Yap, memang para karkun selalu bilang bahwa kami tidak mendeklarasikan nama ini untuk dikenal Ummat. Yah..apapun namanya, tapi kelompok ini telah memiliki ritual beribadah tersendiri semisal khurujnya mereka dengan waktu-waktu yang mereka tentukan sendiri. bahkan teman kuliah saya yang tidak tau apa-apa tentang jema’ah tabligh bilang jema’ah tabligh ini sebagai “agama jaulah” katanya. Lucu juga..lalu saya jelaskan bahwa Jema’ah Tabligh itu bukan sebuah agama..mereka juga sama-sama islam.karena saya juga sempat masuk dan merasakan bagaimana jadi seorang karkun.mungkin anda berfikir..kenapa saya harus keluar dari jema’ah tabligh? nah disinilah peran ‘ilmu. saya tidak banyak menemukan jawaban atas ketidaktahuan saya mengenai agama ketika saya ikut-ikutan khuruj.maklum saya masih awwam..jadi saya selalu bertanya mengapa begini dan begitu ketika khuruj..dan saya memperhatikan banyak keganjilan dan kejanggalan disini..ketika muzakarah misalnya, muzakarah adab-adab tapi tidak selalu disertakan sumbernya darimana..sunnah janggut, sunnah gak isbal, sunnah pake imamah (surban),sunnah pake pakaian gamis/jubah pun tak pernah saya dapat darimana dalilnya, seolah-olah hanyalah sebuah doktrin. saya yang awwam gak ngerti..kadang saya juga suka heran..kenapa para karkun masih saja merokok. apakah itu masalah sepele?? saya yang tidak merokok..karena emang saya gak suka plus tau kerugian merokok dilihat dari segi agama dan kesehatan pun heran. Ah apakah ini islam yang sebenarnya..?? Pun tak ada saling menasihati disini..ya itu lagi-lagi karena fiqhnya ikramul muslimin dan jangan mencari perbedaan. yang penting mah sama..masalah perbedaan jangan diungkit-ungkit nanti bisa bikin perpecahan. nah ini penyakitnya..gak mau kalo dikritik..gak mau ada nasihat..mengapa bisa begini? silakan anda jawab..

Lagian juga kalo dakwah itu mengajak bukannya memaksa..banyak dari sebagian karkun yang lagi nge-joss ( istilah bagi mereka yang tengah semangat-semangatnya jadi karkun ) itu udah gak melihat lagi aturan dalam berdakwah. Mereka memaksa umat untuk mengikuti mereka, masuk jema’ah tabligh..bukan lagi mengajak ummat kembali ke jalan islam yang benar. apakah khuruj tiga hari 40 hari dsb itu adalah sebuah wasilah?? apakah wasilahnya dibenarkan..?? sampai-sampai ada seorang ibu rumah tangga yang menceritakan pengalamannya di email tentang suaminya yang seorang karkun. .berusaha mengajak istrinya untuk keluar juga. Si istri enggan..tapi takut dikatakan durhaka kepada suaminya..ia bertanya apakah khuruj itu dibenarkan?? lalu kalau dalam masalah seperti ini bagaimana?? mementingkan khuruj apa keluarga??

Terus juga yang jadi prioritas anda khuruj itu apa? Menuntut ‘Ilmu apa beribadah?? karena yang saya perhatikan itu kebanyakan adalah mereka lebih banyak memfokuskan kepada ibadah..tapi ibadah itu diharuskan dengan ‘ilmu. pernah saya ketika khuruj usul agar muzakarahnya tentang masalah sholat saja..tapi tidak digubris. gak tau juga kenapa? padahal waktu itu saya ingin mengetahui cara sholat yang benar..apa karena dalam masalah sholat itu banyak sekali perbedaan fiqhnya? dan perbedaan itu bisa menimbulkan perpecahan??lalu kalau begitu..sholatnya siapa yang kita contoh..sedangkan kalau lah perbedaan fiqh itu kalau sejalan dengan apa yang Rasulullah kerjakan kenapa tidak untuk kita bahas??Ah masih banyak keheranan saya ketika ikut-ikutan khuruj..40 hari saya ngapain aja yah??

bersambung dulu..

Pernyataan saya tentang Jema’ah Tabligh

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh,

Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan menulis di blog ini, masih ada beberapa pertimbangan untuk tetap mengisi up date tulisan  di blog ini. Walau kemarin-kemarin saya sempat ragu untuk kembali menulis bahkan saya pernah ada niat untuk menutup blog ini dikarenakan beberapa pertimbangan mengingat maslahat dan mudharat yang diakibatkan oleh sebagian tulisan saya yang mungkin saja menyinggung beberapa pihak yang tidak suka dengan apa yang saya utarakan.

Terlepas dari seluruh kekurangan saya sebagai manusia, maka dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada sebagian dari pembaca yang merasa tersinggung ataupun tidak suka dengan adanya tulisan saya yang terpampang di internet, khususnya mengenai kategori Hizb yang saya soroti khususnya tentang beberapa perkara mengenai  ” Jema’ah Tabligh”. Setelah saya telusuri dari google, ternyata tulisan saya tentang Jema’ah Tabligh ini menempati urutan pertama ketika saya mengetikan keyword “Jema’ah Tabligh” di google. Entah kenapa bisa begitu, sehingga mungkin para pembaca langsung masuk ke blog saya ini dan membaca setiap tulisan saya mengenai jema’ah tabligh dan banyak diantaranya meninggalkan komentar yang sebagiannya saya terima tapi tidak sedikit juga yang saya tolak dikarenakan beberapa pertimbangan. Jadi mohon maap bagi siapa saja yang komentarnya saya tolak untuk saya tampilkan, jangan jadikan anda semua berburuk sangka terhadap apa yang saya lakukan ini. Insya Allah setiap komentar yang anda tinggalkan saya terima dengan senang hati sebagai bahan pertimbangan saya untuk kedepannya.

Menyoroti permasalahan tulisan saya mengenai Jema’ah Tabligh yang mungkin menyinggung sebagian pihak terutama yang ” Pro Jema’ah Tabligh ” saya menyatakan tidak akan melepaskan pernyataan saya tentang Jema’ah Tabligh, karena saya meyakini akan kebenarannya berdasarkan ilmu dan realita nyata yang saya pernah alami ketika saya mengikuti Jema’ah Tabligh. Mungkin banyak yang menyanggah apa yang saya nyatakan dengan berbagai alasan, maka saya persilahkan kepada masing-masing pihak untuk merenungi kebenarannya. Anda bisa menilainya berdasarkan ilmu yang benar, karena tidak semata-mata saya menulis artikel tersebut dengan perasaan ta’ashub ataupun benci terhadap saudara muslim saya sendiri. Saya juga benci terhadap orang kafir ( Nasharani ataupun Yahudi ) sama seperti anda yang bersemangat sekali seperti saudara-saudara yang ada di Pergerakan / Harokah. Tapi jangan jadikan penyimpangan yang ada di depan mata anda yang menjangkiti saudara anda sendiri, terus anda biarkan mengakar dan berkarat sehingga sulit untuk dihilangkan. Saya sadari, bahwa saya masih jauh dari ‘Alim. Dan benar..saya bukan ‘Ulama bahkan santri dari sebuah Ma’had pun saya bukan, saya sama seperti anda yang masih kuliah dan bekerja tapi mungkin masih terbetik didalam benaknya untuk mencari setitik saja kebenaran di zaman yang sulit seperti ini.

Untuk itulah ketika saya merasakan kebenaran itu dan ingin keluar dari penyimpangan, saya dengan refleks ingin berbagi dengan saudara-saudara sekalian tentang pengalaman yang saya alami. Jadi jangan menjudge bahwa saya ingin merusak persaudaraan sesama muslim ketika saya menuliskan / mengutip pernyataan ‘Ulama Sunnah tentang beberapa penyimpangan Jema’ah Tabligh. Anda semua yang beriman dengan Rukun Iman dan Menjalankan Rukun Islam adalah saudara saya, walaupun untuk perkara hati anda masing-masing saya tidak berhak untuk mengetahui apalagi menghukumi apa yang tersembunyi di hati anda semua, masalah orang mendapatkan pahala dan dosa itu saya tidak berhak untuk menilai apalagi menghukumi seseorang masuk neraka ataupun masuk surga itu adalah Hak Allah. Saya berlindung dari menghakimi saudara saya sendiri dengan berbagai julukan yang tak pantas, Untuk itu saya minta maaf kalau andai saja saya pernah berkata-kata kasar dalam bertutur kata itu semata-mata karena khilaf yang ada dalam diri saya.

Mungkin untuk sekarang ini saya tidak akan berkomentar banyak, selain sudah ada nasihat dari Ustadz saya. Juga dikarenakan untuk menghindarkan diri saya dari berkata tanpa ‘ilmu, untuk itu bagi siapa saja yang ingin mengetahui hakikat kebenarannya silakan saja anda merujuk kepada tulisan para ‘ulama yang tsiqah dalam mengungkapkan kebenaran dan bertanya kepada Ustadz yang istiqomah dalam membimbing masyarakat kepada manhaj  Salaf.

Atas kesempatan waktu yang telah diberikan oleh anda semua membaca tulisan ini, saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Salam persaudaran sesama muslim diatas manhaj AlQuran dan Assunnah yang Shahih dan sesuai Pemahaman para Sahabat.

Wassalamu’alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh..

Afwan sekarang saya jarang up date..

Afwan sekarang saya jarang up date…

Mungkin karena berbagai kesibukan saya yang baru masuk kuliah dan kerja sore harinya hingga malam bahkan sampai pagi kalo memang kebagian shift malam..sehingga saya g bisa konsentrasi dalam menulis dan meng update blog.

Mohon do’anya supaya Allah memudahkan saya untuk bisa semangat sebagaimana dahulu..dan bisa memberikan kontribusi bagi ummat walo hanya dengan sekedar tulisan..

Jazaakumullahu khairan katsiro. Barokallahu fiikum…

Salam buat Saudara-Saudara saya

- Al Akh Abu Maulid

- Al Akh Abu Umar Anas

- Al Akh Abu Yahya Albykazi

- Al Al Akh Rikhal Abu Faiz

- Al Akh Adi Abdullah

- Al Akh Abu Husam

- dll..Akhukum Fillah

Kajian Islam ” Da’wah Salaf Da’wah yang Rahmah “

Panitia Pengajian AhlusSunnah wal Jama’ah Masjid Al-I’tisham Jakarta, mengundang segenap Keluarga Muslim untuk menghadiri:
Muhadhoro Bersama:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin
(Alumnus Darul Hadits Dammaj – Yaman)
Tema : Da’wah SALAF Da’wah yang RAHMAH
yang insya ALLAH akan dilaksanakan pada
Waktu : hari Sabtu 29 Maret 2008 mulai jam 9.00
Tempat : Masjid Al-I’tisham Jalan Sudirman Jakarta (Belakang Bank Muamalat/ Hotel Shangrila – Dukuh Atas)

Informasi : Abu Bakar 92812630

:: Ajaklah keluarga, saudara, teman, tetangga anda… untuk lebih mengenal Islam dengan baik dan benar

:: Bagi Kaum Muslimin yang Mengetahui informasi ini hendaknya menyampaikan kepada Kaum Muslimin yang lain.

Belajar memaknai hakikat cinta yang sesungguhnya…bisakah?

Manusia tercipta dengan sempurna. Ia terlahir dengan jasmani dan ruhaninya. Didalamnya terkumpul dua unsur yang selalu bersandingan, entah itu bersanding dengan satu hal yang sejalan dengannya atau bahkan mungkin bersanding dengan sifat-sifat yang menjadi kebalikannya. Sungguh Maha Besar Allah Subhanahu wa Ta’ala yag telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan memberitakan bahwa perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”

Diantara bentuk perasaan yang Allah telah ciptakan dan menyatu dalam diri seorang manusia salah satunya adalah perasaan cinta. Cinta yang dimaksud disini masih bermakna fitrawiyah, dimana ada sebuah bentuk perasaan ketika seseorang merasa ingin mengasihi dan menyayangi sesamanya makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah makna sederhana nya cinta….

Walaupun terkadang kita juga belum mengetahui apa sebenarnya makna dari cinta itu yang sesungguhnya. Karena untuk mendefinisikan cinta sungguh begitu sulit dijangkau oleh kalimat dan diraba dengan kata-kata. Subhanallah…Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9) begitulah cinta….semakin orang memaknainya semakin tidak jelas pula apa hakikat cinta yang diinginkan dan yang diangankannya.

Tapi walaupun kita sulit untuk mendefinisikan makna cinta yang sesungguhnya, lima huruf yang kita bicarakan ini selalu ramai dan asyik diperbincangkan oleh orang-orang. Mengapakah? Bahkan dengan alasan dan dalih “cinta” pula orang-orang banyak yang melanggar apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Wal’iyaudzubillah…Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Cinta memang selalu mengikuti tujuan orang yang memakanainya. Ketika cinta itu dilandaskan kepada Allah dan Rasul-Nya maka cinta yang seperti ini merupakan cinta yang mulia bahkan menjadi derajat cinta yang paling tinggi selain cinta-cinta kepada selain-Nya. Fa Subhanallah….

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165) terusin aja bacanya

Sampai kapan kita terus memaksiati-Nya?

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)

Meniti hari dan menyisakan jejak sisa waktu kita setiap hari. Terkadang ada semangat menggebu membakar jiwa untuk terus beramal yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita, walau mungkin seringnya selalu terkapar dan terhempas dalam jatuhnya hati kita ke dalam lubang-lubang gelap maksiat yang membuat jiwa dan tubuh kita melemah karena dosa. Wajar memang…sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ma’shum dan memang selalu menjadi tempat berbuat salah dan khilaf. Kita pasti akan melakukan dosa…baik itu yang kecil ataupun besar dan baik itu disengaja ataupun tidak disengaja.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

“Setiap anak Bani Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat “

( Hadits Riwayat At-Tirmidzi 2499, Ibnu Majah 4251, Ahmad [ III/198 ], dari ‘Anas Radiyallahu ‘anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ ash-shagir no 4391 )

Namun sungguh janganlah pernah terbetik dibenak kita untuk meremehkan setiap dosa yang pernah kita lakukan, karena dosa itu bagaikan virus dan akan membesar dan menyebar tatkala kita enggan bertaubat dan meremehkannya dengan menganggap bahwa yang kita lakukan itu hanyalah sebuah dosa kecil saja tak ubahnya sebutir pasir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia menarik diri/berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)”

(HR. Ahmad, 2/297, At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain no. 1430)

Sungguh sampai kapan kita akan terus memaksiati-Nya….

Dalam rentetan detik yang selalu saja kita terlalai dalam mengisinya. Dan dalam desahan nafas dan detakan jantung yang tidak kita tahu kapan desahan nafas dan detakan jantung kita itu akan berhenti secara tiba-tiba. Kita tahu bahwa kematian akan menjemput kita..tapi mengapa kita selalu merasa pura-pura tidak tahu akan datangnya saat mencekam itu?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu

megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur:  8 )

Muhammad ibnu Jarir rahimahullah mengatakan: Allah mengatakan: “Kemudian pasti Allah akan bertanya kepada kalian tentang nikmat yang kalian mendapatkannya di dunia, apa yang kalian lakukan dengannya? Dari jalan mana kalian sampai kepadanya? Dengan apa kalian mendapatkannya? Apa yang kalian perbuat padanya?” terusin aja bacanya

Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah!!

Kali ini saya akan mengangkat sebuah tema permasalahan tentang penyimpangan manhaj-manhaj baru dalam dunia dakwah yang saya ambil dari kitab “Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II” dengan judul asli ” Al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As-Ilah al-Manahij al-Jadidah [Jawaban yang bermanfa'at dari pertanyaan-pertanyaan tentang beraneka ragam manhaj baru]” yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi [Daar as-Salaf,Riyadh]

Pembahasan kitab ini berkisar pada masalah manhaj, yang mana masalah ini banyak orang ataupun kelompok yang menempuhnya tidak sejalan dengan manhajnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Salaf ash-shalih. Bahkan banyak orang sekarang  yang menganggap ringan masalah ini. Sehingga tidak heran kalau keluar kata-kata dari mereka “Walaupun manhaj dakwahnya menyimpang toh akidah dan kitab-kitabnya juga sama”, dan ucapan-ucapan yang lainnya yang membuktikan akan kurang fahamnya mereka ini terhadap manhaj para Salaf As-Salih, maka dengan adanya buku ini semoga bisa mengobati penyakit bodoh tentang manhaj. Dan buku ini adalah kumpulan-kumpulan jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Shalih Ibnu Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah yang kemudian disusun dan diberikan komentar berupa catatan dan penjelasan oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi.

So’al ke 49 :

Sungguh telah menyebar -alhamdulillah- seruan kepada manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang mengatakan: “Sesungguhnya dakwah ini [dakwah Salafiyyah] tidak lain hanyalah akan memecah belah barisan [kaum muslimin, pent] dan mengkoyak-koyakan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meninggalkan [memerangi, pent] musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah ini benar, dan apa nasihat Syaikh?

Jawab :

Ini adalah pemutar balikan hakekat [fakta], karena sesungguhnya berdakwah kepada tauhid dan manhaj salaf ash-shalih itulah yang mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan [kaum muslimin] sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah belah.” ( Ali-Imran : 103 )

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’ : 92)

Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali diatas kalimat Tauhid dan Manhaj Salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih manhaj-manhaj yang menyelisihi Manhaj Salaf maka bercerai-berai dan berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian. Siapa yang menyeru kepada Tauhid dan Manhaj Salaf, itulah orang yang menyeru kepada persatuan, sedangkan orang yang menyeru (Umat) untuk menyelisihi Manhaj Salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.¹

¹. Sesungguhnya dakwah Tauhid menurut “Firqah Tabligh” dan Firqah “Ikhwanul Muslimin” adalah merupakan perkara yang membuat manusia lari dan memecah belah umat islam -menurut sangkaan mereka-. Dan mereka berpendapat bahwa dakwah Tauhid itu bukan bagian dari dasar-dasar dakwah. Mereka juga tidak ridha terhadap orang-orang yang menyeru kepada Tauhid, bahkan tatkala ada orang yang masuk firqahnya lalu membicarakan masalah Tauhid, maka mereka akan segera memperingatkannya.

Dan ini adalah kenyataan yang terjadi pada diri Ustadz Muhammad Ibnu Abdullah Ibnu Muhammad Al-Ahmad yang telah disebutkan oleh Syaikh Hamud At – Tuwaijiri didalam kitabnya Al-Qaulul Baligh fit-tahdziri min Jama’atit Tabligh (hal.46), dan aku ( Abu Abdillah Al-Haritsi ) ringkaskan disini :

“Ustadz Muhammad berkata, “Amir (Amir Firqatut Tabligh) pernah memintaku untuk memberikan pengarahan kepada para jema’ah haji setalah shalat Ashar -dimana saya adalah orang yang baru saja ikut khuruj (keluar) bersama Jama’ah ini- lalu Amir meminta kepada pembantunya agar memberikan pesan kepadaku, kemudian ia (pembantunya) berkata,” Dalam pembicaraanmu harus dijauhkan dari tiga perkara -yang disebutkan salah satu diantaranya- : Membicarakan masalah kesyirikan-kesyirikan dan bid’ah-bid’ah, karena sesungguhnya sebab lemahnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah karena terlalu perhatian dalam masalah ini.”

Saya (Abu Abdillah Al-Haritsi) katakan, “Contoh-contoh dalam hal ini adalah banyak sekali, bukalah kembali kitab tersebut niscaya engkau akan menjumpai hal-hal yang sangat mengherankan.

bersambung