Afwan sekarang saya jarang up date..

Afwan sekarang saya jarang up date…

Mungkin karena berbagai kesibukan saya yang baru masuk kuliah dan kerja sore harinya hingga malam bahkan sampai pagi kalo memang kebagian shift malam..sehingga saya g bisa konsentrasi dalam menulis dan meng update blog.

Mohon do’anya supaya Allah memudahkan saya untuk bisa semangat sebagaimana dahulu..dan bisa memberikan kontribusi bagi ummat walo hanya dengan sekedar tulisan..

Jazaakumullahu khairan katsiro. Barokallahu fiikum…

Salam buat Saudara-Saudara saya

- Al Akh Abu Maulid

- Al Akh Abu Umar Anas

- Al Akh Abu Yahya Albykazi

- Al Al Akh Rikhal Abu Faiz

- Al Akh Adi Abdullah

- Al Akh Abu Husam

- dll..Akhukum Fillah

Kajian Islam ” Da’wah Salaf Da’wah yang Rahmah “

Panitia Pengajian AhlusSunnah wal Jama’ah Masjid Al-I’tisham Jakarta, mengundang segenap Keluarga Muslim untuk menghadiri:
Muhadhoro Bersama:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin
(Alumnus Darul Hadits Dammaj - Yaman)
Tema : Da’wah SALAF Da’wah yang RAHMAH
yang insya ALLAH akan dilaksanakan pada
Waktu : hari Sabtu 29 Maret 2008 mulai jam 9.00
Tempat : Masjid Al-I’tisham Jalan Sudirman Jakarta (Belakang Bank Muamalat/ Hotel Shangrila - Dukuh Atas)

Informasi : Abu Bakar 92812630

:: Ajaklah keluarga, saudara, teman, tetangga anda… untuk lebih mengenal Islam dengan baik dan benar

:: Bagi Kaum Muslimin yang Mengetahui informasi ini hendaknya menyampaikan kepada Kaum Muslimin yang lain.

Belajar memaknai hakikat cinta yang sesungguhnya…bisakah?

Manusia tercipta dengan sempurna. Ia terlahir dengan jasmani dan ruhaninya. Didalamnya terkumpul dua unsur yang selalu bersandingan, entah itu bersanding dengan satu hal yang sejalan dengannya atau bahkan mungkin bersanding dengan sifat-sifat yang menjadi kebalikannya. Sungguh Maha Besar Allah Subhanahu wa Ta’ala yag telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan memberitakan bahwa perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”

Diantara bentuk perasaan yang Allah telah ciptakan dan menyatu dalam diri seorang manusia salah satunya adalah perasaan cinta. Cinta yang dimaksud disini masih bermakna fitrawiyah, dimana ada sebuah bentuk perasaan ketika seseorang merasa ingin mengasihi dan menyayangi sesamanya makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah makna sederhana nya cinta….

Walaupun terkadang kita juga belum mengetahui apa sebenarnya makna dari cinta itu yang sesungguhnya. Karena untuk mendefinisikan cinta sungguh begitu sulit dijangkau oleh kalimat dan diraba dengan kata-kata. Subhanallah…Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9) begitulah cinta….semakin orang memaknainya semakin tidak jelas pula apa hakikat cinta yang diinginkan dan yang diangankannya.

Tapi walaupun kita sulit untuk mendefinisikan makna cinta yang sesungguhnya, lima huruf yang kita bicarakan ini selalu ramai dan asyik diperbincangkan oleh orang-orang. Mengapakah? Bahkan dengan alasan dan dalih “cinta” pula orang-orang banyak yang melanggar apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Wal’iyaudzubillah…Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Cinta memang selalu mengikuti tujuan orang yang memakanainya. Ketika cinta itu dilandaskan kepada Allah dan Rasul-Nya maka cinta yang seperti ini merupakan cinta yang mulia bahkan menjadi derajat cinta yang paling tinggi selain cinta-cinta kepada selain-Nya. Fa Subhanallah….

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165) terusin aja bacanya

Sampai kapan kita terus memaksiati-Nya?

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)

Meniti hari dan menyisakan jejak sisa waktu kita setiap hari. Terkadang ada semangat menggebu membakar jiwa untuk terus beramal yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita, walau mungkin seringnya selalu terkapar dan terhempas dalam jatuhnya hati kita ke dalam lubang-lubang gelap maksiat yang membuat jiwa dan tubuh kita melemah karena dosa. Wajar memang…sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ma’shum dan memang selalu menjadi tempat berbuat salah dan khilaf. Kita pasti akan melakukan dosa…baik itu yang kecil ataupun besar dan baik itu disengaja ataupun tidak disengaja.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

“Setiap anak Bani Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat “

( Hadits Riwayat At-Tirmidzi 2499, Ibnu Majah 4251, Ahmad [ III/198 ], dari ‘Anas Radiyallahu ‘anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ ash-shagir no 4391 )

Namun sungguh janganlah pernah terbetik dibenak kita untuk meremehkan setiap dosa yang pernah kita lakukan, karena dosa itu bagaikan virus dan akan membesar dan menyebar tatkala kita enggan bertaubat dan meremehkannya dengan menganggap bahwa yang kita lakukan itu hanyalah sebuah dosa kecil saja tak ubahnya sebutir pasir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia menarik diri/berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)”

(HR. Ahmad, 2/297, At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain no. 1430)

Sungguh sampai kapan kita akan terus memaksiati-Nya….

Dalam rentetan detik yang selalu saja kita terlalai dalam mengisinya. Dan dalam desahan nafas dan detakan jantung yang tidak kita tahu kapan desahan nafas dan detakan jantung kita itu akan berhenti secara tiba-tiba. Kita tahu bahwa kematian akan menjemput kita..tapi mengapa kita selalu merasa pura-pura tidak tahu akan datangnya saat mencekam itu?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu

megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur:  8 )

Muhammad ibnu Jarir rahimahullah mengatakan: Allah mengatakan: “Kemudian pasti Allah akan bertanya kepada kalian tentang nikmat yang kalian mendapatkannya di dunia, apa yang kalian lakukan dengannya? Dari jalan mana kalian sampai kepadanya? Dengan apa kalian mendapatkannya? Apa yang kalian perbuat padanya?” terusin aja bacanya

Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah!!

Kali ini saya akan mengangkat sebuah tema permasalahan tentang penyimpangan manhaj-manhaj baru dalam dunia dakwah yang saya ambil dari kitab “Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II” dengan judul asli ” Al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As-Ilah al-Manahij al-Jadidah [Jawaban yang bermanfa'at dari pertanyaan-pertanyaan tentang beraneka ragam manhaj baru]” yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi [Daar as-Salaf,Riyadh]

Pembahasan kitab ini berkisar pada masalah manhaj, yang mana masalah ini banyak orang ataupun kelompok yang menempuhnya tidak sejalan dengan manhajnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Salaf ash-shalih. Bahkan banyak orang sekarang  yang menganggap ringan masalah ini. Sehingga tidak heran kalau keluar kata-kata dari mereka “Walaupun manhaj dakwahnya menyimpang toh akidah dan kitab-kitabnya juga sama”, dan ucapan-ucapan yang lainnya yang membuktikan akan kurang fahamnya mereka ini terhadap manhaj para Salaf As-Salih, maka dengan adanya buku ini semoga bisa mengobati penyakit bodoh tentang manhaj. Dan buku ini adalah kumpulan-kumpulan jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Shalih Ibnu Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah yang kemudian disusun dan diberikan komentar berupa catatan dan penjelasan oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi.

So’al ke 49 :

Sungguh telah menyebar -alhamdulillah- seruan kepada manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang mengatakan: “Sesungguhnya dakwah ini [dakwah Salafiyyah] tidak lain hanyalah akan memecah belah barisan [kaum muslimin, pent] dan mengkoyak-koyakan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meninggalkan [memerangi, pent] musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah ini benar, dan apa nasihat Syaikh?

Jawab :

Ini adalah pemutar balikan hakekat [fakta], karena sesungguhnya berdakwah kepada tauhid dan manhaj salaf ash-shalih itulah yang mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan [kaum muslimin] sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah belah.” ( Ali-Imran : 103 )

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’ : 92)

Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali diatas kalimat Tauhid dan Manhaj Salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih manhaj-manhaj yang menyelisihi Manhaj Salaf maka bercerai-berai dan berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian. Siapa yang menyeru kepada Tauhid dan Manhaj Salaf, itulah orang yang menyeru kepada persatuan, sedangkan orang yang menyeru (Umat) untuk menyelisihi Manhaj Salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.¹

¹. Sesungguhnya dakwah Tauhid menurut “Firqah Tabligh” dan Firqah “Ikhwanul Muslimin” adalah merupakan perkara yang membuat manusia lari dan memecah belah umat islam -menurut sangkaan mereka-. Dan mereka berpendapat bahwa dakwah Tauhid itu bukan bagian dari dasar-dasar dakwah. Mereka juga tidak ridha terhadap orang-orang yang menyeru kepada Tauhid, bahkan tatkala ada orang yang masuk firqahnya lalu membicarakan masalah Tauhid, maka mereka akan segera memperingatkannya.

Dan ini adalah kenyataan yang terjadi pada diri Ustadz Muhammad Ibnu Abdullah Ibnu Muhammad Al-Ahmad yang telah disebutkan oleh Syaikh Hamud At - Tuwaijiri didalam kitabnya Al-Qaulul Baligh fit-tahdziri min Jama’atit Tabligh (hal.46), dan aku ( Abu Abdillah Al-Haritsi ) ringkaskan disini :

“Ustadz Muhammad berkata, “Amir (Amir Firqatut Tabligh) pernah memintaku untuk memberikan pengarahan kepada para jema’ah haji setalah shalat Ashar -dimana saya adalah orang yang baru saja ikut khuruj (keluar) bersama Jama’ah ini- lalu Amir meminta kepada pembantunya agar memberikan pesan kepadaku, kemudian ia (pembantunya) berkata,” Dalam pembicaraanmu harus dijauhkan dari tiga perkara -yang disebutkan salah satu diantaranya- : Membicarakan masalah kesyirikan-kesyirikan dan bid’ah-bid’ah, karena sesungguhnya sebab lemahnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah karena terlalu perhatian dalam masalah ini.”

Saya (Abu Abdillah Al-Haritsi) katakan, “Contoh-contoh dalam hal ini adalah banyak sekali, bukalah kembali kitab tersebut niscaya engkau akan menjumpai hal-hal yang sangat mengherankan.

bersambung

Bukan Jema’ah!! tapi Firqah…!!

Hari itu sudah senja….Kelelahan yang sangat. Mencoba menghempaskan tubuh yang terasa hancur setelah seharian berada diatas motor dari Jakarta menuju kediamanku di daerah Majalengka-Jawa Barat.

” Ada yang lagi khuruj tuh di masjid…!! ” Ayah saya tiba-tiba memberi tahu.

“Khuruj lagi…. ” Batinku. Seolah mengingat kenangan 2 tahun ke belakang. Ketika saya ikutan khuruj Jema’ah (Firqah) Tabligh.

“Ah..biarin aja..” Segera saja saya mandi dan Sholat Ashar Berjama’ah bareng Al Akh Hafidz. Kebetulan tadi tidak sempat ke Masjid karena hujan deras dan sedang diperjalanan hingga pakaian kami basah kuyup dan langsung menuju rumah.

Setelah Sholat ‘Ashar kami pun beristirahat.

Tidak terasa Adzan Maghrib pun berkumandang. Segera ku kenakan gamis dan sarung dan menuju masjid yang berada di dekat rumah. Benar saja…ada banyak karkun di masjid kami. Wajah-wajah lama….dan sebagiannya saya kenal dan pernah khuruj bareng saya dulu.

Belum tahu kah? Apakah belum tegak hujjah kah atas mereka? Atau belum baca fatwa ‘ulama kah tentang berbagai penyimpangannya? Wallahu musta’an…Padahal Al Ustadz Muhammad Umar Assewed Hafizhahullah mengisi majelis ‘ilmu di masjid yang sama dengan para karkun melakukan ritualnya setiap malam jum’at disana. Malahan mereka menjauh dari ‘ilmu ketika diberitahukan dan diperdengarkan kajian ‘ilmu dari Ustadzuna dan meninggalkannya dengan sikap tidak suka dan lebih memilih jalan-jalan kesana kemari mencari orang yang bisa diceramahi. Allahu musta’an…

Sudah lama kita berada diatas kejahilan…Sudah lama kita menjadi orang yang terus menerus berada dalam kemaksiatan…Sudah lama kita menjadi orang awwam terhadap agama ini…tapi kini apakah kita akan berpindah dari semua itu dan mengistiqomahkan diri dalam kebid’ahan? Wahai akhy…tahukah kalian? Kenyataan atas penyimpangan firqahmu ini telah menyebar kemana-mana…mengajak masyarakat awwam untuk mendekatkan diri dengan jalan yang Allah dan Rasulullah tidak Ridhai karena dirimu telah membuat cara-cara ibadah baru diatas syari’at agama yang telah sempurna ini.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata :

…………..
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan segala kebutuhan umat dalam berbagai aspek kehidupan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu : “Tidak ada yang diabaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai burung yang mengepakkan sayapnya di langit, melainkan beliau telah mengajarkan kepada kami tentang ilmunya”.

Ada seorang musyrik bertanya kepada Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu : ” Apakah Nabi kalian mengajarkan sampai tentang tatacara buang hajat ..? Salman menjawab : ‘Ya, beliau telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat, dan membersihkan hajat dengan kurang dari tiga batu, atau dengan tangan kanan atau dengan kotoran kering atau dengan tulang”.

[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalis Syar'i wa Khatharil Ibtidaa', edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin )

Dikatakan oleh Ibnu Mas’ud:

“Artinya : Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.”

( Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Laalika-iy no. 160 )

Memang iya Allah punya betis dan kaki !

“Apa Iya Allah Punya Kaki dan Betis?!”

Pertanyaan diatas seolah-olah ringan sekali diucapkan oleh seorang blogger sewaktu saya blogwalking di WordPress.

Baca saja ucapannya dibawah ini…

Saya agak kaget ketika menerima email dari seseorang tentang beberapa hadis aneh yang “konon” telah disahihkan oleh beberapa pencatat hadis kelas pertama Sunni, seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmudzi, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab tafsir seperti al-Tabari, Ibn Katsir dan Suyuti.

Hadis pertama mengatakan bahwa Allah punya “Kaki” sementara yang kedua menyatakan bahwa Allah punya “Betis”. Saya jadi ngakak sendiri saat membaca, dan membayangkan hal-hal yang … dan punya resiko berdosa. Tapi hadis-hadis ini sungguh super aneh dan saya tidak paham mengapa kok bisa lolos seleksi kesahihan dari pakar-pakar hadis tersebut … ?!

Masya Allah..Wallahu musta’an…

Apa hujjah sang penulis mengatakan kedua hadits kaki dan betis yang telah dishahihkan oleh para ‘ulama hadits yang oleh penulis telah diragukan keshahihannya dengan menyebutkan kata “konon”. Ck..Ck..Ck..apakah karena belum tahu atau apakah karena memang dengan sadar meragukan keshahihannya? Tentunya hawa nafsu dan akal nya lah yang telah meragukan bahkan menolak keshahihan hadits ini…” Apa iya sih…? “

Bahkan yang menjadi lancang nya sang penulis sampe ngakak ( menertawakan ) ketika membaca hadits ini dan mengatakan bahwa kedua hadits ini sebagai Hadits ” super aneh ” ? Sehingga meremehkan kapasitas dan kefaqihan ‘ilmu para ‘ulama hadits dalam menyeleksi kedua hadits tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini…

Apa hujjahmu wahai orang yang telah telah meragukan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala…..? Tak kau jelaskan bagaimana dirimu bisa ragu…Tak kau jelaskan bagaimana dirimu bisa berkata-kata lancang seperti itu terhadap para ‘Ulama…Allahu musta’an…

Marilah kita membaca sebuah Risalah dibawah ini agar kita mau untuk taslim dalam mengikuti kebenaran dan terhindar dari sifat-sifat jelek dan tercela dalam menyikapi sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala… terusin aja bacanya