“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)
Meniti hari dan menyisakan jejak sisa waktu kita setiap hari. Terkadang ada semangat menggebu membakar jiwa untuk terus beramal yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita, walau mungkin seringnya selalu terkapar dan terhempas dalam jatuhnya hati kita ke dalam lubang-lubang gelap maksiat yang membuat jiwa dan tubuh kita melemah karena dosa. Wajar memang…sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak ma’shum dan memang selalu menjadi tempat berbuat salah dan khilaf. Kita pasti akan melakukan dosa…baik itu yang kecil ataupun besar dan baik itu disengaja ataupun tidak disengaja.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :
“Setiap anak Bani Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat “
( Hadits Riwayat At-Tirmidzi 2499, Ibnu Majah 4251, Ahmad [ III/198 ], dari ‘Anas Radiyallahu ‘anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ ash-shagir no 4391 )
Namun sungguh janganlah pernah terbetik dibenak kita untuk meremehkan setiap dosa yang pernah kita lakukan, karena dosa itu bagaikan virus dan akan membesar dan menyebar tatkala kita enggan bertaubat dan meremehkannya dengan menganggap bahwa yang kita lakukan itu hanyalah sebuah dosa kecil saja tak ubahnya sebutir pasir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia menarik diri/berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)”
(HR. Ahmad, 2/297, At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain no. 1430)
Sungguh sampai kapan kita akan terus memaksiati-Nya….
Dalam rentetan detik yang selalu saja kita terlalai dalam mengisinya. Dan dalam desahan nafas dan detakan jantung yang tidak kita tahu kapan desahan nafas dan detakan jantung kita itu akan berhenti secara tiba-tiba. Kita tahu bahwa kematian akan menjemput kita..tapi mengapa kita selalu merasa pura-pura tidak tahu akan datangnya saat mencekam itu?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu
megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8 )
Muhammad ibnu Jarir rahimahullah mengatakan: Allah mengatakan: “Kemudian pasti Allah akan bertanya kepada kalian tentang nikmat yang kalian mendapatkannya di dunia, apa yang kalian lakukan dengannya? Dari jalan mana kalian sampai kepadanya? Dengan apa kalian mendapatkannya? Apa yang kalian perbuat padanya?” terusin aja bacanya