Ana tau antum ini ingin membela Sunnah dan para ‘Ulama nya ( yang senantiasa istiqomah mendakwahkan AlQur an dan Assunnah menurut pemahaman Salafus Salih ) kita tunjukan bagaimana kita ini yang menisbatkan kepada salaf. Kita harus bangga menjadi Salafi bukan Hizby, Tablighy, Tahriry, Ikhwany, apalagi Sururi [ pengikut Muhammad Surur ] jadi memang tugas kita mas mendakwahkan kebaikan, mendakwahkan al haq, mendakwahkan sunnah, berdakwah di jalan Allah walau dimanapun tempatnya dan bagaimanapun keadaannya.
Kita tunjukan pada semua bahwa kita ini Salafi Ahlussunnah yang istiqomah dalam segala hal [insya Allahu Ta'ala] dan juga kita tunjukan bagaimana Aqidah kita, Mu’amalah kita, dan Akhlaq kita sebagai Salafi Ahlussunnah agar orang yang awwam menjadi faham dan orang orang yang terperangkap bid’ah menjadi mengenal Sunnah, Orang-orang yang terkena syubhat menjadi terbuka hatinya, juga orang-orang yang menolak menjadi menerima. Falillahilhamdu Insya Allahu Ta’ala..
Akhir kata buat Ikhwan Salafiyyin Blogger yang aktif nulis blog di WordPress tetaplah istiqomah diatas Manhaj salaf dan do’akan ana juga ya…
Barokallahu fikum wa Uhibbukum Fillah ya akhy…
* Afwan tulisan diatas saya delete sebagian untuk menghindari timbulnya fitnah, pencelaan terhadap saudara sendiri, timbulnya rasa berbangga, Riya dan ‘ujub, Jidal-jidal yang g penting, juga komentar-komentar miring terhadap manhaj salaf, terhadap Sunnah dan orang-orang yang berusaha istiqomah diatasnya.
Jazakumullahu khairan atas segala perhatiannya. Barokallahu fikum..
DIarsipkan di bawah: cerita hari ini, tulisan saya




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Awalnya ana agak kaget membaca judulnya, soalnya kebanyakan menyerang. Tulisan di atas cukup menyejukkan..hehehe. Jazakallahu khairan atas nasihatnya. Semoga Allah mengokohkan kita di atas manhaj salaf dan Dia menambah ilmu kepada kita semua.
Akhukum fillah
Abu Maulid
Assalamualikum wr wb
Orang kafir itu ndak salut lihat sholat nya orang islam, ndak salut lihat puasanya, atau ibadah lainnya, tapi yg sehari hari dilihat orang kafir sehari hari adalah akhlaknya orang islam, muamalah dan muasyarah, bagai mana dia bergaul dan memperlakukan orang lain.
Begitu juga mas Anto yang antum banggakan itu,kami dak lihat ratusan rakaat sholatnya di mesjid, tapi yang kami kenal dan llihat adalah anto salafy yg sehari-hari di bloghospere adalah antosalafy yg sebagaimana yg sedang kita “gibah” kan ini. antosalafy yg selalu mengkafirkan, membid’ahkan tapi tak pernah memberi solusi.
Setuju mas shelling ford! nah, karena saya nggak pernah ketemu sama beliau, jadinya saya hanya bisa mengukur kepribadian beliau dari kegiatannya di dunia maya aja. Tapi bisa aja kepribadian di dunia maya beda dengan kepribadian yang asli..
mudah2an begitu..
mudah2an..
amiin…
Eniwei, saya tidak terlalu tau dengan manhaj yang anda anut, tapi jika sifat dan kelakuan para pembawa manhaj salaf kebanyakan mirip kayak beliau, saya tidak yakin bakal tertarik untuk mempelajari lebih jauh.. kenapa beliau nggak nyoba ngasih argumen yang jelas untuk setiap komentar yang dilayangkan terhadap beliau, kenapa malah lebih memilih untuk menjatuhkan mental orang yang nanya (dengan ancaman neraka jahannam, misalnya), lebih memilih mengutip hadist tanpa memikirkan bahwa tidak semua orang dapat menafsirkan isi hadist, lebih memilih untuk menutup diri terhadap komentar (di dalam blog beliau khususnya) padahal bisa saja para tukang komentar (yang sering dkatakan “menyerang” ini) sedang mencari kebenaran dari argumen yang sedang beliau sampaikan..
salah kah saya..? atau malah sudah menjadi kafir..
hahaha, relatif, kan?
yang saya rasakan ya begitulah. ternyata kebenaran itu relatif kan padah akhirnya?
yang jelas, cara beliau berdiskusi sudah mendapat trademark dari beberapa blogger sebagai pendiskusi yang selalu mengedepankan ad-hominem dalam berdiskusi (itupun kalau mau disebut sebagai diskusi, bukan perdebatan)
saya agak nggak respek pada beliau (dan pada beberapa penganut manhaj (yang ngakunya) salaf) bukan karena ke’salaf’annya. tapi lebih kepada perilakunya dalam berdiskusi dan selalu memaksakan kebenaran menurut versinya tanpa mau mengkaji pendapat orang lain dahulu. yeah, kalau butuh bukti, ya silahkan aja dibaca2 bagaimana caranya beliau menanggapi komentar2 saya, atau bagaimana cara beliau berkomentar di tempat saya.
yah, memang… di dunia nyata dan maya segalanya bisa berlaku saling berlawanan
@ Shelling Ford dan Wak Tomad
Kebenaran Tidak Dikenal dari Para Tokoh, Tetapi Para Tokoh Dikenal Karena Mereka Berjalan di Atas Kebenaran.
Maka kenalilah kebenaran, niscaya kalian akan mengenal kejelekan-biidznillah
hehehe….
*sorry, susah mao ngomong paan, tapi pengen ngomen… *
kafirkah ???
Assalamualaikum wrwb
Kebenaran milik ALLAH, bukan milik antosalafy
assalamu’alaykum
afwan..sedikit ikut komentar,….
ana pribadi gak kenal siapa akh abu maulid , namun melihat tulisan dan apa yang ada di blog beliau, hmmmm..isinya seperti yang dibilang akh zevian diatas,…..
dan untuk al akh abu maulid, mungkin nasehat dari akh zevian yang ini
.
bisa menjadi renungan bagi kita semua …….afwan jiddan
barakallahu fiikum
nah itu, mas anto baru datang sudah langsung mengatai wak somad sebagai wak tomad…hehehehe…
kalo seperti itu, sapa coba yang bakal respek sama dia? apa iya dia seperti yang anda ceritakan? kayaknya sifatnya justru bertolak-belakang, deh.
ah, sapa tau mas anto itu justru sedang memakai kedok di depan anda dengan berpura2 nampak sebagai orang yang alim.
apa yg terjadi di diskusi ini sudah memperlihatkan bagaimana cara mas anto bersikap kan?
misalnya aja tentang salam. ada perbedaan pendapat diantara kami. ditulis lengkap ataupun tidak, makna dan pengucapannya tetaplah “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
kalo bersikeras menulis lengkap, dalam ejaan kanji atau aksara jawa pun bentuk tulisan “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” pun juga akan berubah, kan? nah, mana yang lebih penting, bentuk tulisannya ataukah makna di dalamnya? apakah penting mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu?
antosalafy:::
bagaimana anda bisa mengenal kebenaran dan keburukan kalau cuma berangkat dari 1 pandangan saja tanpa mau mengetahui hal yang sebenarnya dari apa yang selama ini anda anggap buruk. kenalilah secara mendalam barulah menyimpulkan. nggak shahih rasanya kalo kita mengatakan manajemen internal toko a buruk tanpa kita pernah sekalipun mempelajari manajemen internal toko a itu sendiri.
bandingkanlah secara obyektif barulah menarik kesimpulan.
permisalan lain: tidak pernah membaca buku karangannya pengarang X barang sebijipun tapi sudah langsung berkesimpulan semua buku karangannya si X tidak bermutu tentunya kurang bisa diterima. dasar apa yang dipakai? landasan apa yang anda gunakan? belum sempat mengicipi sebuah makanan kok sudah bilang makanan itu nggak enak?
JAWAB:
na’am wallahu’alam ana husnuzhan mas anto salah ketik nulis wak somad jadi wak tomad
ana bilang ana g ada masalah sama mas anto, kalo antum tinggal di jakarta silakan kalau mau ketemu sama kami blogger salafi jakarta, datang aja ketempat dimana kami kajian. jangan memasukan setiap komentar yang berisi sentimen pribadi ditempat ana mas.afwan
ya akhy..salam adalah do’a yaitu mendo’akan keselamatan sesama muslim. apakah berat jari jemarimu hanya untuk mengetikan salam secara lengkap? Masya Allah semoga Allah Menunjukan kepada kita jalan kebenaran. banyak hal yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang namun itu di sisi ALLAH SUbhanahu wa Ta’ala sangatlah besar perkaranya. jangan pernah menggampangkan sesuatu padahal antum mampu melakukannya
ya akhy agama ini bukanlah untuk dijadikan permisalan apalagi dengan permisalan-permisalan yang tidak sebanding dengan kemuliaan dan kesempurnaan agama ini. jadikanlah alQur an dan Assunnah sebagai neraca antum membandingkan dan menilai sesuatu BUKAN dengan perasaan-perasaan dan akal logika yang terbatas ini. fahamilah agama ini dengan pemahaman yang shahih dan berjalan lah dengan bimbingan dan nasihat para ‘ulama. sungguh para ‘ulama itu para pewaris Nabi, kalau kita sudah enggan untuk mereguk nikmatnya ‘ilmu dan nasihat dari para ‘ulama sunnah lalu kepada siapa kita akan merujuk?
Semoga ALLAH merahmati para ‘ulama kita yang telah wafat meninggalkan kita
dan menjaganya apabila mereka hafizhahullah masih hidup dan berada ditengah-tengah kita.amiin
Assalamualikum. wr wb.
thanks.
weleh ? lumayan jg anda ini. komen saya tdk dibuang…
itu komen coba2. karena saya memang selalu ingin berkomentar di blog2 apapun, (tanpa membuat panas, sebenarnya saya sudah gerah, karena bnyk komen saya yg dibuang, di hampir semua blog yg berbau Agama, kecuali di blognya Wak Abdulsomad) btw sekali lagi, saya bukan komporator. justru saya yg dibuat menyala di beberapa blog yg mengaku ber-Agama.
ada beberapa yg “diloloskan” (walaupun kemudian dibuang kembali) tetapi itupun sudah diedit. bnyk alasannya.. diantaranya adalah avatar (saya tdk pernah ber-avatar mahluk sungguhan, kartoon dan gambar stiker mobil yg terakhir ini).
di sebuah blog Agama (ketika era Wadehel) bahkan tdk menjawab ucapan salam saya. baik disingkat maupun komplit. (tapi sempat ditampilkan, kira2 sehari – setelah di edit).
kata kafir sempat juga mengenai saya. kira2 katanya spt ini (kalau `ga salah ya, yg penting kira2 spt ini) :
anda tdk mengerti. Istigfarlah. kembalilah dari jalan yg sesat dan kafir. topiknya sendiri saya sudah lupa. tetapi balasannya itu lho…
(Semoga mpunya blog2 itu membaca komen saya disini). buat blog kok `kaga mao nerima kritik. lutcu….apa agama Islam hanya utk aliran/kelompok sendiri ? atau merasa suci sendiri ?? Istigfarlah !!!
sekali lagi, saya bukan provokator.
semoga anda mengerti. thanks sebelumnya.
saya kok sulit untuk husnuzhon ya? apalagi setelah beliau sendiri pernah menyamakan saya dengan anjing tempo lalu
secara logika sendiri, letak huruf s dan t di kibor itu jauh lho
hehe..terserah antum kalo g mo husnuzhan. tapi nama antum bener kan nulisnya??
wah, kalo ttg sentimen-sentimenan, bukannya tulisan mas sendiri memuat tentang sentimen pribadi. bedanya, mungkin tulisan mas adalah sentimen postiif, sedangkan komentar saya adalah sentimen (yang dinilai) negatif.
intinya, sih, tema tulisan ini tentang mas abu maulid kan? dan menurut saya, pandangan saya thd mas abu maulid ya seperti yang saya tulis
Allah juga maha mengetahui isi hati hambanya. tulisan disingkat atau tidak, dalam huruf kanji atau bukan, dalam aksara jawa atau bukan, bacaannya kan tetap “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”?
seandainya gini, mas, ada suatu tempat di dunia ini – sebutlah negara x – yang tata cara penulisannya seperti yang kita anggap sbg menyingkat, tapi ternyata itulah bahasa (dan cara menulis) nasional mereka, apakah kita juga mau meributkan ttg hal itu? padahal parameter menilai suatu hal sebagai suatu yang populis antara satu tempat dan lainnya kan tidaklah sama.
kalo ada yang menulis ucapan salam “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” dalam aksara jawa yang mungkin kita tidak pernah tahu bagaimana cara menulis dan membacanya, masak iya kita mau menyalahkan mereka yang menulis “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” dalam aksara jawa? ditulis dalam bentuk aksara jawa yang beda dengan yang kita sepakati sebagai huruf yg kita kenal dalam hidup kita sehari2, ataupun ditulis dalam bentuk singkatan, saya pribadi berpikir itu bukan masalah. yang penting kan pelafalannya tetap “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, dan bukan “as-we-er-we-be”
agama bukan permisalan? lalu darimana kita bisa menyimpulkan suatu agama itu benar/tidak kalau tidak menganalogikannya ke dalam kehidupan kita di dunia ini
dari mana kita bisa mengkaji kebenarannya? ada banyak agama di dunia ini. lalu kalo kita tidak membanding2kannya, bagaimana kita bisa memiliki pendapat yang obyektif thd suatu agama?
kalo saja agama itu tidak layak dibandingkan dan dipertanyakan, seandainya saja anda terlahir dari (misalnya) keluarga hindu yang fanatik, maka boleh jadi sampe sekarang anda tetap beragama hindu, kan
memilih suatu agama sebagai jalan hidup pun, bagi manusia, saya rasa juga diawali dari proses membandingkan.
analogi yang saya gunakan sebelumnya adalah contoh yang lebih sederhana dari sebuah perbandingan. itu sangat sederhana, karena membandingkan sebuah ajaran agama itu bakal lebih rumit lagi
saya bukannya enggan merujuk kepada pendapat ulama. saya bahkan membandingkan semuanya. menurut seorang ulama, yusuf qardhawi sesat, tapi bukan berarti saya harus langsung percaya. saya harus membuktikannya. artinya, selain membaca karya2 ulama yang (katanya) salaf, saya juga harus membandingkannya dengan karya ulama yang (dicap) tidak salaf.
saya nggak mau menghakimi orang, mas. salaf atau tidak salaf, toh hanya Allah yang berhak menilai. tidak ada orang yang bebas dari kesalahan di dunia ini, termasuk ulama2 yang menjadi panutan para penganut manhaj (yang katanya) salaf. sapa tau saja mereka salah, kan?
(kecuali kalo anda menganggap ulama2 (yang katanya) salaf itu bebas dari kesalahan dan kealpaan
kalo mereka bilang aliran ini sesat, ulama itu bejat, ya saya nggak boleh langsung percaya. saya harus telaah dulu fakta2nya.
kalo mas memang mau menghindari buku2/kitab karangan ulama2 yang (dicap) tidak salaf dengan alasan ingin menjaga akidah, itu nggak masalah. tapi ya jangan kayak mas anto yang langsung menghakimi mereka sebagai kaum sesat tanpa pernah mencoba untuk mempelajari kitab mereka.
kita berandai2 aja, mas. ini antara anda dan saya aja, deh
anda mengaku penganut salaf, tetapi ternyata menurut Allah di akhirat besok anda tidak salaf, nah, anda bisa apa?
saya nggak pernah menggembar-gemborkan saya ini salaf atau bukan. bahkan saya nggak mau disebut salafy (merujuk pada apa yang disebut sebagai salafy menurut masyarakat umum pada saat ini). tapi kalau di akhirat besok Allah justru menyebut saya sebagai seorang salafy sesuai dengan salafy yang sebenarnya Dia maksudkan, nah, mas juga ga bakal bisa protes kan
kesalafan seseorang saya pikir nggak bisa dinilai dari pengakuan dirinya ataupun dilihat dari gelaran kunyah yang dia pakai. yang berhak menentukan itu semua kan cuma Allah. saya pikir, Allah punya parameter sendiri
di dunia ini semuanya masih relatif. yang menurut anda salah/sesat bisa jadi di akhirat besok ternyata justru yang benar. yang menurut anda benar, bisa jadi di akhirat besok justru menyimpang. semuanya masih misteri sampai dengan Allah membuka tabir misteri ini besok, mas
makanya, kalo menurut saya, jangan suka ikut2an mencap orang lain sebagai sesat atau tidak sesat ya, mas. kalo ada yang menurut anda cocok, silahkan diikuti. kalo ada yang tidak cocok, silahkan tinggalkan tanpa perlu menghujat secara berlebihan. selama suatu perkara belum terungkap kebenaran sejatinya, silakan gunakan azas praduga tak bersalah sampai nanti Sang Hakim mengungkap segalanya.
p.s. saya harap komentar saya benar2 dibaca baik2 seluruhnya dan tanpa emosi ya, mas!
sejauh ini saya senang berdiskusi dengan anda meskipun kita memiliki beberapa pandangan yg berbeda
benar. hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang sesungguhnya
bukan berarti saya benar, bukan berarti pula artikel mas di atas juga benar, kan?
allrite! ini yang saya suka. kita SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT
lho, permisalan yang saya ambil kan juga dari kehidupan sehari2. apa mas pikir alqur’an dan assunnah berarti tidak mengatur tentang kehidupan sehari2?
artinya anda ini cuma KEBETULAN aja beragama islam ya, mas? karena anda KEBETULAN dilahirkan dari keluarga yang beragama islam. kalo saya sih enggak. saya berani bilang begitu karena walaupun saya memang dilahirkan dari keluarga islam, saya memilih islam setelah proses bertanya dan membandingkan; ini (islam) adalah jalan hidup yang paling logis bagi saya. begitu pula dengan teman2 saya yang muallaf. bayangkan kalo teman2 saya yang muallaf itu tidak memiliki kekritisan seperti yang juga tidak dimiliki oleh mas. hayo…coba dibayangkan
boleh jadi mereka semua tidak bakal hijrah kepada islam, kan?
bagaimana yang non islam bakal tertarik kepada islam kalo mereka tidak boleh membandingkan ajaran agamanya dengan ajaran islam? bagaimana saya bisa tau siapa yang lebih baik antara (misalnya) salafy dan JT kalo saya tidak membandingkan?
wah, saya nggak berani kalo nggak pake “katanya”. semuanya belum pasti. siapa yang sesungguhnya salaf semuanya masih rahasia Allah soale
duh, kalo membandingkan salaf dengan yang lain tapi harus di bawah bimbingan ulama salaf, ya jadinya nggak obyektif, mas. subyektif. sama aja kayak membandingkan liverpool dan manchester united tapi harus dibawah bimbingan penggemar fanatik manchester united. hasil bimbingannya kemungkinan besar pastilah bakal condong ke manchester united sebagai yang lebih baik.
di sinilah pentingnya bertindak obyektif
bagus! pemahaman ini penting sekali untuk menghindari taklid buta dan fanatisme berlebihan.
yang harus diingat adalah ketika mereka mengeluarkan fatwa yang sensitif. kita harus cross-check lebih banyak lagi dalam hal ini. karena ya itu tadi, sapa tau mereka sedang khilaf ketika sedang menyimpulkan suatu perkara
fakta itu kan menurut ulama (yang katanya) salaf. fakta sejatinya tentang siapa yang salaf siapa yang sesat, siapa yang benar siapa yang salah masih rahasia Allah, kan?
kayak yang saya bilang; mungkin mas cenderung cuma membaca karya2 ulama (yang katanya) salaf tanpa menghiraukan ulama2 yang (dicap) sesat. jadilah mas seperti orang awam yang sedang membandingkan antara MU dan liverpool tapi di bawah bimbingan penggemar fanatik MU. hasilnya adalah kecenderungan untuk berpihak pada MU. nilai2 obyektifnya jadi lenyap sama sekali
pemahaman salaf YANG SESUNGGUHNYA (MENURUT ALLAH) dan yang nggak salaf itu seperti apa aja masih belum jelas sampai Hari Pengadilan besok, kok kita mau membuat penilaian berdasarkan parameter dari suatu hal yang belum jelas?
saya nggak bisa menjamin hal itu, mas. bahkan syaikh ibnu baz ataupun syaikh ibnu utsaimin sendiri saya pikir juga tidak berhak menilai amalan seseorang. cuma Allah-lah yang memiliki hak untuk itu.
di dunia skrg ini, semua ulama bisa aja bicara bahwa pemahamannya adalah yang paling salaf, kan? ulama2 yang mengaku salaf tapi pemahamannya saling berseberangan satu sama lain nyatanya juga banyak, kan? pastinya mas tau tentang fenomena salafy atas dan salafy bawah di jokjakarta, kan?
betul! makanya saya suka nggak sependapat sama mas abu maulid. beliau suka memuat tulisan tentang penghakiman terhadap suatu perkara yang masih ghaib
bagus. saya setuju. nama boleh aja macam2, yang penting hakekatnya, kan?
karenanya saya suka nggak setuju dengan kegiatan yang mencap aliran ini aliran itu sebagai aliran sesat, cuma karena memakai “nama” yang berbeda dengan “nama” salafy
sekali lagi, mana yang sesat mana yang benar, semuanya masih ghaib. kalo ada yang tidak cocok dengan nurani kita, silakan tinggalkan. kalo kita ingin memberi peringatan kepada orang yang dekat dengan kita, gunakan bahasa yang santun dan azas praduga tak bersalah. jangan sampai kata2 kita justru melukai hati orang lain yang kebetulan mendengar/membaca kata2/tulisan kita yang boleh jadi di mata Allah amalannya malah jauh lebih bagus dibanding amalan kita.
bahasa yang kasar seperti “sesat” atau “anjing”, saya pikir dibanding niatan ingin berdakwah bakal lebih memecah belah ukhuwah. setidaknya itu menurut saya
@ shelling Ford
Wallahu’alam…
kalo kaya gini terus, menurut ana g akan kelar-kelar karena antum selalu merasa tidak sependapat dengan apa yang ana utarakan.
SALAFI selalu tabayyun ketika menyelidiki suatu perkara, tidak akan pernah jatuh vonis SESAT, KUFUR, AHLI BID’AH pada seseorang sampai jelas kesesatannya, kekufurannya, dan kebid’ahannya. dan apakah dia hanya ikut-ikutan saja karena jahil atau malah mencari pengikut dan menyebarkan kesesatan,kekufuran,dan kebid’ahannya kepada ummat.
jadi tidak sembarangan mas…
ana jamin insya ALLAH para ‘ulama tidak pernah sedikitpun mengeluarkan fatwa tanpa ‘ilmu atau pengetahuan atasnya.
Alhamdulillah ana g merasa benar sendiri atau merasa paling benar trus pendapat selain ana tuh salah, tapi ana yakin akan kebenaran alqur an dan hadits yang shahih ketika memutuskan suatu perkara yang insya ALLAH kita tidak akan tersesat selamanya selama kita memahami dengan benar dengan pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya.
perlu antum ketahui setiap anak adam itu terlahir secara fitrah yaitu dalam keadaan ISLAM tapi orang tuanya lah yang berperang dalam mengubah aqidah si anak tersebut menjadi NASRANI,YAHUDI bahkan MAJUSI. jadi jelas saja bukan sebuah KEBETULAN seperti kata antum. semuanya sudah menjadi QADARULLAH mas..
ya..terserah saja antum mau bilang apa. antum mo bilang ana g kritis boleh-boleh saja tapi kalo antum memang berfikir kritis dan mau berfikir kritis terhadap agama ini mungkin antum akan lebih faqih daripada ana, karena antum selalu akan bertanya dan bertanya kepada para ‘ulama yang ahlinya mengapa ini begini [bertanya tentang masalah agama] mengapa ini disebut sunnah & ini bid’ah, ini tauhid & ini syirik, ini halal & ini haram sehingga jelas bagi antum perkara syari’at ini, tapi mana mas bentuk kritis antum terhadap agama ini? bukan dengan mengkritisi sebuah syari’at yang sudah jelas dalil dan hujjahnya.
yang memberi hidayah itu ALLAH mas, manusia diberikan akal untuk memilih mana jalan yang terbaik untuk dirinya, Dakwah untuk menyeru kepada ISLAM yang benar sudah tersebar di seluruh dunia tinggal manusianya saja mau tidak tergerak hatinya untuk menjadi seorang MUSLIM bahkan yang sudah menjadi MUSLIM pun mau tidak dia mempelajari bagaimana sih islam yang benar itu?
hehehe…bagaimana ana harus meyakinkan antum tentang perkara manhaj sedangkan antum adalah seorang yang berfikir kritis, antum selalu membandingkan bagaimana salafy bagaimana ini itu, tentunya antum akan mencari kebenaran itu?
Wallahi, kalo ana tidak berfikir kritis juga maka buat apa ana dulu ikut pengajian Ikhwany [PKS], trus ikutan Jema’ah Tabligh yang sudah ditahdzir para ‘ulama, ikutan jema’ah yang aqidahnya TAKFIRI dan MU’TAZILAH. sungguh karena ana tidak ingin taklid dan ta’ashub maka ana mencoba semuanya dan membandingkan sampai ana kenal dengan manhaj SALAF dengan KEJELASAN hujjah dan dalilnya dalam setiap perkara.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Keif akhi? Besok taklim insya Allah? Afwan, soal perselisihan dengan mereka ahsan tidak diperpanjang lagi, ana sudah mengenal mereka dari awal sampai sekarang, ya begitu-begitu saja. Namun, respon yang ada justru ana dianggap telah mengafirkan mereka. Sungguh, kita hati-hati dalam hal takyin kafir tidaknya seseorang. Kami tidak gegabah. Namun, itulah mereka, mudah sekali menjatuhkan vonis, hatta terhadap ana. Yang lebih keji lagi adalah tuduhan mereka kepada manhaj salaf. Ana berprasangka baik karena itu muncul dari kejahilan mrk. Allahumaghfirlana… Hidayah itu milik Allah ta’ala semata. Kita hanya bisa menyampaikannya saja, menyampaikan dengan mengharap wajah Allah semata, insya Allah. Kami sudah menyampaikan dengan kemampuan yang ada pada kami dan ilmu yang ada pada kami. Adapun manhaj salaf tetaplah agung. Salafy adalah nama yang suci. Maksudnya bahwa apa yang kita sampaikan sudah cukup, seperti diskusi antum dengan mereka yang antum akhiri sampai di sini. Jazakallahu khairan.
akhukum fillah,
abu maulid
lho, memang. kita sudah sepakat untuk tidak sepakat kan? tapi kembali kepada topik tulisan, yang saya tuliskan di komentar adalah tentang ketidak-sukaan saya dengan mas abu maulid yang – diakui atau tidak – faktanya sudah menyinggung orang/golongan lain
kalo saya sih, jujur, nggak berani menjamin
saya cuma mengikuti hati nurani saya saja. ada yang cocok, ikuti. ada yang nggak cocok, tinggalkan saja. tentunya sambil selalu meminta kepada Allah untuk menunjukkan jalan yang lurus bagi saya.
eh, menurut anda Yusuf Qardhawi atau Quraish Shihab itu sesat ga, mas?
memang ketentuan Allah, mas. saya cuma membahasakannya sebagai “kebetulan” karena itu adalah bahasa yang lebih sederhana. “kebetulan2″ di dunia ini semuanya Allah punya peranan, kan?
tapi kalo ketentuan Allah itu ternyata – misalnya – si A lahir di keluarga agama X, memeluk agama X, dan dia tidak mau membandingkan ajaran agamanya dgn islam, kira2 bagaimana nasibnya?
jadi, membandingkan agama itu sebenarnya boleh/tidak? perlu/tidak perlu? kalo jawaban saya: perlu. dalam rangka untuk pemantapan iman.
justru sebaliknya. ulama A dan golongan A menganggap sebuah syariat jelas hujjah dan dalilnya, tapi tidak demikian dengan ulama B dan kelompok B. kalo saya taklid saja kepada salah satunya tanpa mau membandingkannya dengan yang lain, itulah yang saya sebut dengan tidak kritis.
pendapat yang berseberangan tentulah harus disikapi dengan obyektif. bukan dengan fanatisme buta
betul. pilihan ada di tangan manusia; mau berusaha mendapatkan hidayah itu atau tidak. dan jalan kita sebagai pendakwah pun sebenernya memiliki tanggung jawab yang besar. bagaimana seseorang mau tertarik kepada risalah yang hendak kita sampaikan kalo kita menyampaikannya dengan kata2 yang kasar seperti yang selalu diucapkan mas abu maulid dalam tulisannya?
cara membuat orang tertarik itu saya pikir bisa dipelajari di teori marketing tingkat dasar. seorang pendakwah pun saya pikir perlu belajar ttg marketing.
dibanding kata “sesat” atau “kafir” atau “anjing”, saya malah jadi teringat kepada ucapan ketua MUI Bali ketika hendak “mengislamkan” calon istri oom saya. beliau bilang, “akidah anda nggak salah, mbak. cuma sedikit bengkok aja. dengan anda di sini, anda meluruskan akidah anda itu.”
kata2 persuasif seperti itu saya pikir lebih efektif dan terasa sejuk di hati ketimbang kata2 kasar ala mas abu maulid
that’s great. sayapun tak hendak memaksakan pikiran saya. kalo anda menganggap apa yang anda jalani skrg ini cocok, teruskan. cuma ya kalo saya boleh berpesan, hindari menyinggung perasaan orang/kelompok lain pada saat berdakwah. sedapat mungkin berlakulah obyektif dengan berpikir terlebih dahulu bagaimana jika anda berada di posisi orang yang akan anda dakwahi tersebut.
siapapun orangnya, sesesat apapun dia, dia pasti bakal meradang kalo kita sebut dia sebagai “sesat”
Assalamu’alaikum…
Saya salut sama mas SF atas pemikiran kritisnya, dan takzim sama Ustadz Zevian atas keshabarannya. Mudah2an kita beroleh manfaat dari “diskusi” ini.
Pemikiran “sederhana” mas Satrianto (benar?, saya alumni UGM juga mas) sebenarnya fenomena umum yang saya pribadi temui dimana2, di Makassar, Padang, dll. “Cara” atau memang itu MANHAJ salafiyun menyampaikan pesan (da’wah) bertentangan dengan teknik komunikasi modern “breaking the ice: the first step of effective communication”, yang terjadi adalah “breaking the heart”. Afwan. Saya paling susah kalau mau bagi pendapat sama Ikhwah Salafiyun, karena (maaf) rata2 mereka jadi Judge, apakah memang ini yang Rasulullah saw (boleh disingkat gak nich?) praktikkan? Bukankah kebenaran harus disampaikan dengan benar? Apa semua harus dengan nasehat2 yang keras? Sedemikiankah ulama2 Salaf terdahulu memberi nasehat ? Introspeksilah. Oh ya, Ustadz, kalau dulu antum pernah ngaji di Ikhwan (berapa lama?) dan ikutan JT (berapa lama pula?), kalau ana malah sebaliknya tuh, cuma bisa datang sekali ke pengajian Salafy, seterusnya yaa gak sanggup, mungkin belum dapat hidayah atau krn berpikir agak moderat seperti mas Satrianto. Afwan.
Terkait dengan tajuk “tokoh kita” ini, gak usah Ustadz bela2in, dari komentarnya saja saya tak salut. Rasulullah saw orang yang penyabar, bahkan dilempar kotoran pun beliau balas dengan senyuman, akhlaq yang mulia (moga kita semua diakui sbg ummatnya). Bahkan dengan seorang Yahudi buta pun beliau bergaul, memberinya makan langsung dari mulut yang mulia itu, padahal sang Yahudi buta ini selalu mencerca, mengumpat kepadanya. Setakat apakah kita mencontohnya? Wallahu a’lam.
Assalamu ‘alaikum…
. Oh ya, kalau asatidz (meminjam istilahnya) atau guru-guru di pengajian2 salafy itu umumnya dari mana ? Apa bedanya dengan pengajian2 di PKS (PKS itu ikhwan apalagi ?) dan di JT ? Saya ada pula teman ngajak pengajian HT (katanya). Ustadz, buku2 apa yang mesti saya baca biar dapat hidayah macam Ustadz dulu.
Trima kasih Ustadz (ini cuma do’a saya lho Ustadz, moga jadi The Real Ustadz), tapi Ustadz TPA itu banyak juga yang pandai Ustadz. Maaf Ustadz, saya gak nyebut ikwan salafiyyun itu tidak berakhlak dan beradab lho
Mengenai Mas Anto, saya tak bilang gak suka, cuma tak salu sama komentar2nya. Soalnya saya pernah dengar Rasulullah saw itu pernah ditegur oleh Allah SWT gara2 cuekin/tak acuh sama seorang buta yang mau belajar Islam (cuma lupa siapa nama orang buta itu), konon katanya jadi shahabat Nabi. Trima kasih. Wallahu a’lam.
Assalamu’alaikum
Trima kasih Ustadz.
Ustadz, saya coba-coba searching di internet tentang Syaikh Al Albani, dan saya baca beliau ternyata ditentang oleh banyak ulama pula. Coba Ustadz kunjungi ini http://www.livingislam.org/alb_e.html#fn-4 . Bagaimana komentar Ustadz terhadap artikel ini ?
Wallahu a’lam.
daengupm:::
hahaha, saya malah belum alumni, pak. masih sibuk beredar di kampus demi sebuah ijazah
abu hanzhalah zevian:::
sedikit oot, mas.
saya sering menanyakan tentang hadist yang menyebutkan bahwa Rasul mencela kaum khawarij dengan sebutan anjing neraka.
nah, yang mau saya tanyakan adalah, saya merasakan sedikit kejanggalan yang entah karena saya memang bukan penghafal hadist yang baik atau apa. saya merasa sedikit janggal karena setau saya kaum khawarij justru dikenal pada era setelah nabi wafat. jadi sepengetahuan saya agak janggal aja kalo hadist itu dijadikan pijakan.
maka, validkah sebenernya hadist tersebut?
bisa dibantu?
oh ya, boleh rekues? kalo bisa saya minta tolong dimuatin tentang artikel sejarah kaum khawarij dunk. buat ngilangin penasaran aja. kalo googling sendiri yang saya dapat dari wikipedia ya seperti yang saya tuliskan: khawarij itu dikenal setelah era wafatnya nabi.
terima kasih
wah…wah……
mas SF jadi curhat nih sama ustd abu hanzhalah…..
barakallahu fiik
antum benar akh……..
makanya ana berharap banyak pada antum semoga Allah ta’ala memberikan hidayahNya kepada mas SF ini melalui antum…..kalau boleh sedikit menasehati akh….ahsan kalau antum menjawab reply di blog antum ini..dengan bahasa yang santun, walaupun cara yang “keras” memang kadang diperlukan,…berilah pengertian “apa itu Manhaj salaf dan Siapa salafy” ….semoga Allahu ta’ala memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita semua….
afwan jiddan…
barakallahu fiik
Btw, kalau kaum Al-Agnostiky kayak saya, kira-kira selamat, nggak?
kebenaran? Akh…menghayal saja……
Assalamualaikum
tetapi mengapa mata hati antum tertutup melihat kebaikan yg dibawa Jemaah Tabligh?
Saya berharap bisa berjumpa antum di Mahsyar
Agar Kita bisa sama saksikan nanti siapa yg akan diusir oleh Jibril, di Mahsyar, saya atau antum
Semoga Kita bisa saksikan siapa sesungguhnya yang akan berjumpa Rosulullah nanti di telaga Kausar
———– delete ———–
wallahul musta’an.
ya muqallaibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.
Bismillahirrahmanirrahim
Barakallahufik….
Ana senang dengan kesabaran antum menanggapi komentar2 yang terkadang “agak kelewatan”. Namun, mungkin begitulah kenyataan di masyarakat terhadap pembawa panji dakwah salafiyah.
Untuk mengatakan seseorang sesat, ahlul bid’ah, apalagi kafir, bagi salafiyyin sungguh berat. Apalagi mereka2 yang telah terkena syubhat.
Bagi ikhwah salafiyyin di manapun kita berada marilah kita menghiasi diri2 kita dengan ilmu syar’i, akhlaq yang mulia dan dengan adab2 Islami.
Bagi yang belum memahami manhaj salaf, manhajnya Rasulullah dan generasi terbaik agama ini, mari kita lapangkan waktu yang ada, untuk menghadiri majlis2 ta’lim salafy. Jangan cuma 1x atau 2x, karena terkadang, materi yang dibahas tidak selesai, dan bisa menimbulkan kerancuan2 yang bisa menyebabkan kita salah paham dan salah menerima informasi.
Mari kita menimbang permasalahan (agama) ini dengan ilmu. Kita kembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan pemahaman salafush shalih. Jangan kita mendahulukan emosi, hawa nafsu, atau atas nama kelompok2 kita.
Kita semua (ana, antum para pembaca -rahimakumullah-, dan yang sering mendebat ikhwan salafiyyin ) adalah orang2 yang menginginkan kebenaran. Lalu, dari manakah kebenaran itu kita ambil? Tentunya dari Al Qur’an al karim, yang menjadi petunjuk bagi orang2 yang bertaqwa. Atau dari hadits2 Rasulullah (yang shahih), yang mana beliau tidaklah berbicara, melainkan perkataan beliau adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah.
Tentunya dengan pemahaman para salafuna ash shalih, generasi terbaik umat ini, generasi yang Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.
Dan pesan ana, bagi antum yang tidak menyukai cara kami, ikhwan salafiyyin yang terkadang “cukup pedas” dalam menyuarakan al haq, ketahuilah, kami bukan orang2 yang ma’shum. Maka, bicaralah empat mata (via email, telepon, atau surat) kepada kami, apa yang menjadi kegelisahan antum. Fa insya Allahu ta’ala, kami akan mendengar keluhan antum dan bi idznilah akan memberikan solusi berdasarkan Al Qur’an wa Sunnah ‘ala fahmi salafuna ash shalih.
Semoga Allah menjadikan hati2 kita terbuka kepada al haq, dan menjadikan kita lapang dalam menerima al haq.
Kebenaran datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, kesalahan datangnya dari diri ana pribadi dan dari syaithan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan2 ana, dan ana bertobat kepada Allah.
Wabillahi at taufiq.
Akhukum fillah
Abu Zubair Dimaz
(Kalau ada yang kurang pas, tolong diedit akh)
lagi ngomongin apaan sih??
salafy? nggak dech, temen saya ikut salafy jadi nggak ke mesjid lagi … soalnya seluruh jamaah masjid kafir semua he he he he … kalo yang syubhat dan sesat mah kayaknya semua nya … (kecuali salafi, makanya dia nggak ke mesjid lagi he he he he)
eh betewe kalo mau ke surga ikut salafy ajah yah ??? wah hebat yah hmmm