Hari itu sudah senja….Kelelahan yang sangat. Mencoba menghempaskan tubuh yang terasa hancur setelah seharian berada diatas motor dari Jakarta menuju kediamanku di daerah Majalengka-Jawa Barat.
” Ada yang lagi khuruj tuh di masjid…!! ” Ayah saya tiba-tiba memberi tahu.
“Khuruj lagi…. ” Batinku. Seolah mengingat kenangan 2 tahun ke belakang. Ketika saya ikutan khuruj Jema’ah (Firqah) Tabligh.
“Ah..biarin aja..” Segera saja saya mandi dan Sholat Ashar Berjama’ah bareng Al Akh Hafidz. Kebetulan tadi tidak sempat ke Masjid karena hujan deras dan sedang diperjalanan hingga pakaian kami basah kuyup dan langsung menuju rumah.
Setelah Sholat ‘Ashar kami pun beristirahat.
Tidak terasa Adzan Maghrib pun berkumandang. Segera ku kenakan gamis dan sarung dan menuju masjid yang berada di dekat rumah. Benar saja…ada banyak karkun di masjid kami. Wajah-wajah lama….dan sebagiannya saya kenal dan pernah khuruj bareng saya dulu.
Belum tahu kah? Apakah belum tegak hujjah kah atas mereka? Atau belum baca fatwa ‘ulama kah tentang berbagai penyimpangannya? Wallahu musta’an…Padahal Al Ustadz Muhammad Umar Assewed Hafizhahullah mengisi majelis ‘ilmu di masjid yang sama dengan para karkun melakukan ritualnya setiap malam jum’at disana. Malahan mereka menjauh dari ‘ilmu ketika diberitahukan dan diperdengarkan kajian ‘ilmu dari Ustadzuna dan meninggalkannya dengan sikap tidak suka dan lebih memilih jalan-jalan kesana kemari mencari orang yang bisa diceramahi. Allahu musta’an…
Sudah lama kita berada diatas kejahilan…Sudah lama kita menjadi orang yang terus menerus berada dalam kemaksiatan…Sudah lama kita menjadi orang awwam terhadap agama ini…tapi kini apakah kita akan berpindah dari semua itu dan mengistiqomahkan diri dalam kebid’ahan? Wahai akhy…tahukah kalian? Kenyataan atas penyimpangan firqahmu ini telah menyebar kemana-mana…mengajak masyarakat awwam untuk mendekatkan diri dengan jalan yang Allah dan Rasulullah tidak Ridhai karena dirimu telah membuat cara-cara ibadah baru diatas syari’at agama yang telah sempurna ini.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata :
…………..
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan segala kebutuhan umat dalam berbagai aspek kehidupan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu : “Tidak ada yang diabaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai burung yang mengepakkan sayapnya di langit, melainkan beliau telah mengajarkan kepada kami tentang ilmunya”.
Ada seorang musyrik bertanya kepada Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu : ” Apakah Nabi kalian mengajarkan sampai tentang tatacara buang hajat ..? Salman menjawab : ‘Ya, beliau telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat, dan membersihkan hajat dengan kurang dari tiga batu, atau dengan tangan kanan atau dengan kotoran kering atau dengan tulang”.
[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalis Syar'i wa Khatharil Ibtidaa', edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin )
Dikatakan oleh Ibnu Mas’ud:
- “Artinya : Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.”
( Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman, Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Laalika-iy no. 160 )
DIarsipkan di bawah: cerita hari ini, copy paste, jema'ah tabligh, manhaj



