“Apa Iya Allah Punya Kaki dan Betis?!”
Pertanyaan diatas seolah-olah ringan sekali diucapkan oleh seorang blogger sewaktu saya blogwalking di WordPress.
Baca saja ucapannya dibawah ini…
Saya agak kaget ketika menerima email dari seseorang tentang beberapa hadis aneh yang “konon” telah disahihkan oleh beberapa pencatat hadis kelas pertama Sunni, seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Tirmudzi, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab tafsir seperti al-Tabari, Ibn Katsir dan Suyuti.
Hadis pertama mengatakan bahwa Allah punya “Kaki” sementara yang kedua menyatakan bahwa Allah punya “Betis”. Saya jadi ngakak sendiri saat membaca, dan membayangkan hal-hal yang … dan punya resiko berdosa. Tapi hadis-hadis ini sungguh super aneh dan saya tidak paham mengapa kok bisa lolos seleksi kesahihan dari pakar-pakar hadis tersebut … ?!
Masya Allah..Wallahu musta’an…
Apa hujjah sang penulis mengatakan kedua hadits kaki dan betis yang telah dishahihkan oleh para ‘ulama hadits yang oleh penulis telah diragukan keshahihannya dengan menyebutkan kata “konon”. Ck..Ck..Ck..apakah karena belum tahu atau apakah karena memang dengan sadar meragukan keshahihannya? Tentunya hawa nafsu dan akal nya lah yang telah meragukan bahkan menolak keshahihan hadits ini…” Apa iya sih…? “
Bahkan yang menjadi lancang nya sang penulis sampe ngakak ( menertawakan ) ketika membaca hadits ini dan mengatakan bahwa kedua hadits ini sebagai Hadits ” super aneh ” ? Sehingga meremehkan kapasitas dan kefaqihan ‘ilmu para ‘ulama hadits dalam menyeleksi kedua hadits tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini…
Apa hujjahmu wahai orang yang telah telah meragukan sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala…..? Tak kau jelaskan bagaimana dirimu bisa ragu…Tak kau jelaskan bagaimana dirimu bisa berkata-kata lancang seperti itu terhadap para ‘Ulama…Allahu musta’an…
Marilah kita membaca sebuah Risalah dibawah ini agar kita mau untuk taslim dalam mengikuti kebenaran dan terhindar dari sifat-sifat jelek dan tercela dalam menyikapi sifat-sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala…
Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qthani
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar’i berarti: merubah lafazh Al-Asma’ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua:
Pertama:
Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka, bahwa istawa [2] Adalah istaula [3] Disini ada penambahan huruf lam. Demikian pula perkataan orang-orang Yahudi, “Hinthah [4] ketika mereka diperintah untuk mengatakan “Hiththah[5]” Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid’ah yang memanshubkan[6] lafazh Allah dalam ayat :
“Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung.”[An-Nisa' : 164].
Kedua:
Merubah makna. Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid’ah yang menafsirkan Ghadhab (marah), dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam); Rahmah (kasih sayang), dengan iradatul in’ am (keinginan untuk memberi nikmat); dan Al-Yadu (tangan), dengan an-ni’mah (nikmat).
[2]. Ta’thil
Ta’thil secara bahasa berarti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar’i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Jadi, perbedaan antara tahrif dan ta’thil yaitu : ta’thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil.
MACAM-MACAM TA’THIL
Ta’thil ada bermacam-macam.
[a]. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma’ dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.
[b]. Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.
[c]. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengata-kan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.
Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’athil, (pelaku ta’thil), tetapi bukan muharif, (pelaku tahrif).
[3]. Takyif
Takyif artinya bertanya dengan kaifa, (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullah Ta’ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa’, -bersemayam-. Beliau Rahimahullah menjawab :
“Istiwa’ itu telah diketahui (niaknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah.”[7]
Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.
[4]. Tamtsil
Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta’ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya.
Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu :
Pertama :
Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.
Kedua :
Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.[8]
ILHAD TERHADAP ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT ALLAH
Pengertian ilhad terhadap Asma’ dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya, dari kebenarannya yang pasti. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya, atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar, atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham “Ittihad”. Jadi, yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil dan tasbih. [9]
[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Serta tanpa tafwidh
[2]. Istawa artinya berada di atas; (setelah dahulunya tidak)
[3]. Istaula artinya menguasai
[4]. Hinthat artinya gandum
[5]. Hiththah artinya bebaskan kami dari dosa
[6]. Maksudnya, lapazh Allah dibaca dengan harakat akhir fathah, padahal semestinya harakat akhirnya dibaca dengan dhammah . Dengan dimanshubkan, maka kedudukan lapazh Allah dalam ayat tersebut menjadi obyek, sehingga arti ayat tersebut berubah menjadi, Dan Musa berbicara kepada Allah secara langsung.
[7]. Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144
[8]. Al-Kawasyif Al-jaliyah an Ma’ani Al-Wasithiyah, hal.86.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah berkata : Ada tasybih jenis ketiga, yaitu menyerupakan Sang Pencipta dengan ma’dumat, (sesuatu yang tidak ada), tidak sempurna dan benda-benda mati. Inilah tasybih yang dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.
[9]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 32 dan Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 24. ( dinukil dari sini )
DIarsipkan di bawah: aqidah, copy paste, tulisan saya




Bismillahir rahmanir rahim…
Assalamu’alækum
Salam kenal dari ana yaa akhi.Ana orang baru dlm dunia blog ini.Blog ana msh polos,belum ada tulisan apapun.Mohon bantuannya ya akhi.
Oh iya,kemaren ana ketemu dg sbuah blog yg isinya -masyaAllah- menjelek2kan salafy,ulama2 salafy.Yg paling dia serang adalah Asy Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab.Ana baca komentar antum disana.Dan djawab dg sangat….Terlihat sangat mementahkan apa yg antm tulis.Allahul Musta’an….Antm tentu tau blog apa yg ana maksud.Ya,
bicarasalafy.wordpress.com
Kalau kita diam saja,ini akan semakin menjauhkan umat dari dakwah salafiyyah yg haq dan murni.Ana sudah adukan hal ini pada ustadz Abdul Mu’thi hafìzhahullah tadi.Semoga beliau menanggapinya.
Syukran yaa akhi.Barakallahufikum…
Wassalamu’alækum…
coba belajar astronomi …..
nanti kamu tahu jawabannya !
gal perlu keluarkan ayat2 dan hadits2 … alam ini juga ayat bagi kita semua