Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah!!

Kali ini saya akan mengangkat sebuah tema permasalahan tentang penyimpangan manhaj-manhaj baru dalam dunia dakwah yang saya ambil dari kitab “Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II” dengan judul asli ” Al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As-Ilah al-Manahij al-Jadidah [Jawaban yang bermanfa'at dari pertanyaan-pertanyaan tentang beraneka ragam manhaj baru]” yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi [Daar as-Salaf,Riyadh]

Pembahasan kitab ini berkisar pada masalah manhaj, yang mana masalah ini banyak orang ataupun kelompok yang menempuhnya tidak sejalan dengan manhajnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Salaf ash-shalih. Bahkan banyak orang sekarang  yang menganggap ringan masalah ini. Sehingga tidak heran kalau keluar kata-kata dari mereka “Walaupun manhaj dakwahnya menyimpang toh akidah dan kitab-kitabnya juga sama”, dan ucapan-ucapan yang lainnya yang membuktikan akan kurang fahamnya mereka ini terhadap manhaj para Salaf As-Salih, maka dengan adanya buku ini semoga bisa mengobati penyakit bodoh tentang manhaj. Dan buku ini adalah kumpulan-kumpulan jawaban dari berbagai pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Shalih Ibnu Fauzan Al-Fauzan Hafizhahullah yang kemudian disusun dan diberikan komentar berupa catatan dan penjelasan oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi.

So’al ke 49 :

Sungguh telah menyebar -alhamdulillah- seruan kepada manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang mengatakan: “Sesungguhnya dakwah ini [dakwah Salafiyyah] tidak lain hanyalah akan memecah belah barisan [kaum muslimin, pent] dan mengkoyak-koyakan, serta menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meninggalkan [memerangi, pent] musuh-musuh mereka yang hakiki. Apakah ini benar, dan apa nasihat Syaikh?

Jawab :

Ini adalah pemutar balikan hakekat [fakta], karena sesungguhnya berdakwah kepada tauhid dan manhaj salaf ash-shalih itulah yang mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan [kaum muslimin] sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah belah.” ( Ali-Imran : 103 )

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’ : 92)

Maka tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali diatas kalimat Tauhid dan Manhaj Salaf, karena apabila mereka dibolehkan memilih manhaj-manhaj yang menyelisihi Manhaj Salaf maka bercerai-berai dan berselisihlah mereka, sebagaimana kenyataannya demikian. Siapa yang menyeru kepada Tauhid dan Manhaj Salaf, itulah orang yang menyeru kepada persatuan, sedangkan orang yang menyeru (Umat) untuk menyelisihi Manhaj Salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.¹

¹. Sesungguhnya dakwah Tauhid menurut “Firqah Tabligh” dan Firqah “Ikhwanul Muslimin” adalah merupakan perkara yang membuat manusia lari dan memecah belah umat islam -menurut sangkaan mereka-. Dan mereka berpendapat bahwa dakwah Tauhid itu bukan bagian dari dasar-dasar dakwah. Mereka juga tidak ridha terhadap orang-orang yang menyeru kepada Tauhid, bahkan tatkala ada orang yang masuk firqahnya lalu membicarakan masalah Tauhid, maka mereka akan segera memperingatkannya.

Dan ini adalah kenyataan yang terjadi pada diri Ustadz Muhammad Ibnu Abdullah Ibnu Muhammad Al-Ahmad yang telah disebutkan oleh Syaikh Hamud At – Tuwaijiri didalam kitabnya Al-Qaulul Baligh fit-tahdziri min Jama’atit Tabligh (hal.46), dan aku ( Abu Abdillah Al-Haritsi ) ringkaskan disini :

“Ustadz Muhammad berkata, “Amir (Amir Firqatut Tabligh) pernah memintaku untuk memberikan pengarahan kepada para jema’ah haji setalah shalat Ashar -dimana saya adalah orang yang baru saja ikut khuruj (keluar) bersama Jama’ah ini- lalu Amir meminta kepada pembantunya agar memberikan pesan kepadaku, kemudian ia (pembantunya) berkata,” Dalam pembicaraanmu harus dijauhkan dari tiga perkara -yang disebutkan salah satu diantaranya- : Membicarakan masalah kesyirikan-kesyirikan dan bid’ah-bid’ah, karena sesungguhnya sebab lemahnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah karena terlalu perhatian dalam masalah ini.”

Saya (Abu Abdillah Al-Haritsi) katakan, “Contoh-contoh dalam hal ini adalah banyak sekali, bukalah kembali kitab tersebut niscaya engkau akan menjumpai hal-hal yang sangat mengherankan.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.