Bismillah..
Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh hingga saat ini saya masih diberikan kehidupan oleh Alloh Subhanu wa Ta’ala. Masih diberikan rezeki dan segala kemudahan oleh-Nya. Masih diberikan berjuta kenikmatan yang tak terhitung..dan..dan..masih banyak lagi karunia yang telah diberikan-Nya. Sungguh sangat pantas lah bagi kita untuk tetap bersyukur padanya, dengan cara selalu bertaqwa kepada Alloh Subahanu Wa Ta’ala yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan Menjauhi segala Larangan-Nya.
Terima kasih kepada para pengunjung yang masih ada saja membaca tulisan-tulisan saya yang mungkin masih jauh dari kebenaran yang Hakiki. Karena saya menyadari..saya hanyalah manusia biasa yang tak ma’shum, jadi mungkin mohon di maklum saja apabila terucap dari lisan ini, atau tersurat dari jari jemari ini kata-kata yang tidak berkenan di hati para pembaca yang budiman.
Baiklah..masih tetap dengan pembahasan jema’ah tabligh. Mungkin banyak orang sudah bosan..mungkin banyak orang akan berkomentar..” ngapain sih ngurusin orang lain?? urusin aja urusanmu sendiri..gak ada gunanya ikut campur masalah orang lain. apalagi kalo dalam masalah agama nya orang lain..” Ya..karena saya tidak akan bermaksud mencampuri urusan agama anda semua. Ini hanyalah sekedar sharing saya saja..terlepas dari bagaimana anda semua menilai dan memahami tulisan saya. Segala khilaf saya mohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala..
Jema’ah Tabligh..Yap, memang para karkun selalu bilang bahwa kami tidak mendeklarasikan nama ini untuk dikenal Ummat. Yah..apapun namanya, tapi kelompok ini telah memiliki ritual beribadah tersendiri semisal khurujnya mereka dengan waktu-waktu yang mereka tentukan sendiri. bahkan teman kuliah saya yang tidak tau apa-apa tentang jema’ah tabligh bilang jema’ah tabligh ini sebagai “agama jaulah” katanya. Lucu juga..lalu saya jelaskan bahwa Jema’ah Tabligh itu bukan sebuah agama..mereka juga sama-sama islam.karena saya juga sempat masuk dan merasakan bagaimana jadi seorang karkun.mungkin anda berfikir..kenapa saya harus keluar dari jema’ah tabligh? nah disinilah peran ‘ilmu. saya tidak banyak menemukan jawaban atas ketidaktahuan saya mengenai agama ketika saya ikut-ikutan khuruj.maklum saya masih awwam..jadi saya selalu bertanya mengapa begini dan begitu ketika khuruj..dan saya memperhatikan banyak keganjilan dan kejanggalan disini..ketika muzakarah misalnya, muzakarah adab-adab tapi tidak selalu disertakan sumbernya darimana..sunnah janggut, sunnah gak isbal, sunnah pake imamah (surban),sunnah pake pakaian gamis/jubah pun tak pernah saya dapat darimana dalilnya, seolah-olah hanyalah sebuah doktrin. saya yang awwam gak ngerti..kadang saya juga suka heran..kenapa para karkun masih saja merokok. apakah itu masalah sepele?? saya yang tidak merokok..karena emang saya gak suka plus tau kerugian merokok dilihat dari segi agama dan kesehatan pun heran. Ah apakah ini islam yang sebenarnya..?? Pun tak ada saling menasihati disini..ya itu lagi-lagi karena fiqhnya ikramul muslimin dan jangan mencari perbedaan. yang penting mah sama..masalah perbedaan jangan diungkit-ungkit nanti bisa bikin perpecahan. nah ini penyakitnya..gak mau kalo dikritik..gak mau ada nasihat..mengapa bisa begini? silakan anda jawab..
Lagian juga kalo dakwah itu mengajak bukannya memaksa..banyak dari sebagian karkun yang lagi nge-joss ( istilah bagi mereka yang tengah semangat-semangatnya jadi karkun ) itu udah gak melihat lagi aturan dalam berdakwah. Mereka memaksa umat untuk mengikuti mereka, masuk jema’ah tabligh..bukan lagi mengajak ummat kembali ke jalan islam yang benar. apakah khuruj tiga hari 40 hari dsb itu adalah sebuah wasilah?? apakah wasilahnya dibenarkan..?? sampai-sampai ada seorang ibu rumah tangga yang menceritakan pengalamannya di email tentang suaminya yang seorang karkun. .berusaha mengajak istrinya untuk keluar juga. Si istri enggan..tapi takut dikatakan durhaka kepada suaminya..ia bertanya apakah khuruj itu dibenarkan?? lalu kalau dalam masalah seperti ini bagaimana?? mementingkan khuruj apa keluarga??
Terus juga yang jadi prioritas anda khuruj itu apa? Menuntut ‘Ilmu apa beribadah?? karena yang saya perhatikan itu kebanyakan adalah mereka lebih banyak memfokuskan kepada ibadah..tapi ibadah itu diharuskan dengan ‘ilmu. pernah saya ketika khuruj usul agar muzakarahnya tentang masalah sholat saja..tapi tidak digubris. gak tau juga kenapa? padahal waktu itu saya ingin mengetahui cara sholat yang benar..apa karena dalam masalah sholat itu banyak sekali perbedaan fiqhnya? dan perbedaan itu bisa menimbulkan perpecahan??lalu kalau begitu..sholatnya siapa yang kita contoh..sedangkan kalau lah perbedaan fiqh itu kalau sejalan dengan apa yang Rasulullah kerjakan kenapa tidak untuk kita bahas??Ah masih banyak keheranan saya ketika ikut-ikutan khuruj..40 hari saya ngapain aja yah??
bersambung dulu..
DIarsipkan di bawah: Pernyataan, jema'ah tabligh, memoryal, tulisan saya




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saudaraku yang semoga dirahmati Allah, tentunya kalau membicarakan perkara pengalaman pribadi akan bermacam-macam jenis pengalaman. Ada yang tadinya ikut usaha dawah dan tabligh kemudian memilih mengaji saja di salafy, dan juga sebaliknya ada yang tadinya ngaji di salafy lama, dan belajar kitab-kitab ulama awalun, dan berguru kebanyak ustadz lalu memutuskan terjun ke usaha dakwah dan tabligh dan dengan gigih mengajak kaum muslim baik awam maupun kalangan alim ulama untuk menghidupkan usaha ini.
Dalam usaha da’wah dan tabligh ada Mudzakarah 6 sifat yang yang dikatakan oleh Maulana Ilyas Rahmatullah’alayhi diumpamakan sebagai alif , ba , tsa nya dalam usaha da’wah ini. Mudzakarah ini sering sekali dilakukan, diantaranya adalah ilmu ma’a dzikir (ilmu yang disertai dengan ingat kepada Allah) ,
disana juga terdapat dua porsi ilmu yang mesti dikaji yaitu ilmu masa’il(hukum/fiqih) dan ilmu fadhail(keutamaan), nah beberapa saudara yang ikut dalam usaha dawah ini ditekankan untuk belajar ilmu masa’il ke para alim ‘ulama dan majlis-majlis ilmu masa’il, begitu pula ilmu fadhail dimajlis-majlis ilmu fadhail.
Jadi ketika ada belajar kepada ikhwah salafy bab ilmu masa’il (jukum/fiqih) , sama sekali tidak ada masalah.
Salah satu tujuan usaha dakwah dengan khuruj fisabilillah adalah usaha untuk memperbaiki diri yaitu dalam hal ini menanamkan sifat-sifat imaniyah (keyakinan) dalam hati kepada Allah, tentunya membutuhkan suasana yang kondusif dan kesatuan hati antar personil jamaah yang sedang melakukan usaha ini.
Lagi pula hanya sekitar 10% waktu dalam setiap bulan atau tiap tahunnya untuk untuk belajar usaha dakwah khuruj fi sabilillah, Selebihnya menghidupkan amal maqomi di rumah dan masjid sendiri dan tetangga dekat. dan belajar agama dapat dilakukan kepada ustadz mana saja sambil tetap menghidupkan amal agama di rumah dan di masjid sendiri ketika kita maqomi(tidak sedang khuruj). Dalam hal ini dapat bicara masalah khilafiyah terserah saudara inginkan, dan hal ini sifatnya infirodhi (masing-masing dapat mempelajarinya dari ustadz mana saja di daerah masing-masing).
trus kenapa kalo lagi khuruj gak boleh dibicarakan?? bukankah setiap perbedaan ada sumbernya? dan mengapa harus berjalan di prinsipnya masing-masing kalo misal ada yang lebih mendekati sunnah diantara itu semua..??
Jadi kalau saudara menanyakan prioritas “khuruj” , tentu yang lebih menjadi prioritasnya adalah perbaikan sifat-sifat imaniyah (keyakinan), sehingga menigkatkan semangat beramal dan da’wah. (sebenarnya perasaan orang yang mengikuti program khuruj fisabilillah berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan kefahamannya)
Dan untuk belajar ilmu-ilmu masa’il(hukum/fiqih) tentunya akan lebih leluasa ketika sedang tidak khuruj yaitu ketika anda sedang maqomi dikampung anda sendiri dengan waktu yang lebih lama. Dan itu sebenarnya yang jugaditekankan dalam salah satu bahasan dari 6 sifat shahabat radhiyallahuanhu yang sering sekali dimudzakarahkan.
Kalau anda bertanya waktu 40 hari untuk apa?
dapat juga ditanyakan , setelah belajar khuruj 40 hari dalam tiap tahunnya, kemudian waktu yang 300-an hari dipakai buat apa saja kok tidak tertib belajarnya? salah tertibnya atau apanya menurut saudara?
Saudaraku yang kucintai karena Allah,
Masalah-masalah yang anda tanyakan mungkin sedikit dapat terjawab di link forum myquran.org tentang Dunia Dakwah Islam berikut :
http://myquran.org/forum/index.php/topic,56770.0.html
disitu diungkapkan tentang pertanyaan adanya berbagai tulisan, yang mungkin pernah anda baca sebelumnya mengenai Fatwa Ulama: Jamaah Tabligh = Kelompok Tanpa Ilmu .
Apakah benar? dapat kita baca/bahas bersama-sama di sana.
Janganlah kebencian seseorang terhadap suatu kaum menyebabkan seseorang bertindak tidak adil.
Saya yakin antum tidak membenci orang-orang yang berkecimpung dalam usaha da’wah dan tabligh ini, hanya saja antum memiliki kerisauan yang kuat untuk saling menasehati dalam perkara yang haq kepada saudara-saudara muslim.
Dari tulisan-tulisan antum di blog ini, Saya lihat sebenarnya antum memiliki akhlak yang baik.